Sambutan hangat hotel bintang 4
Sekitar pukul 09:30 kami sampai di Stasiun Purwosari Solo, yang berlokasi di ujung Jl. Slamet Riyadi (jalan protokol seperti Jl. Sudirman di Jakarta). Begitu turun kereta api, kami langsung disambut para tukang becak yang pantang menyerah menawarkan jasanya.
Walaupun awalnya kami berniat naik taksi, tapi pikir-pikir apa salahnya coba naik becak. Toh dari hasil browsing saya sudah tahu hotel bintang 4 tujuan kami masih di Jl. Slamet Riyadi ini juga. Tanpa tawar-menawar saya setuju saja dengan tarif Rp. 10.000,-. Becak pun melaju di jalur lambat khusus sepeda sepanjang Jl. Slamet Riyadi dan Kaysan senang tak kepalang.
Bukan sok jumawa kalau saya sebut-sebut bintangnya si hotel. Soalnya saya sempat dag...dig...dug ...waktu semakin dekat ke tujuan. Mungkin karena mental minder makhluk ibukota, yang seumur hidup nggak pernah terbayang bakal masuk lobby hotel berbintang pakai becak. Kayaknya si abang merasakan kekhawatiran saya, makanya dia sampai bilang: "biasa kok mbak sampai dalam."
Terbukti memang kekhawatiran saya sama sekali nggak beralasan. Untuk pertama kalinya, saya naik becak sampai masuk lobby hotel bintang 4 dan dapat sambutan hangat pula. Hmm...jadi siapa bilang kendaraan tak bermotor kalah gengsi dengan mobil atau motor? Rupanya hal ini tak berlaku di Solo. Luar biasa.....
2,5 m untuk jalur sepeda Kalo kota lain masih pro dan kontra dengan jalur sepeda, tidak demikian dengan Solo. Ternyata jalur lambat khusus sepeda bukan hanya di sisi kiri Jl. Slamet Riyadi, yang saya lalui naik becak saat menuju hotel. Di sisi sebelah kanan Jl. Slamet Riyadi yang satu arah dan panjangnya 3,5 km ini, ada juga jalur khusus sepeda sekaligus pejalan kaki yang tampaknya baru diperbaiki dengan corn block. Lebar jalur khusus ini tak kurang dari 2,5 m (pokoknya lebih dari 8 langkah saya).
Ternyata nggak perlu tuh jauh-jauh ke Eropa untuk liat surganya pejalan kaki dan sepeda. Jelas-jelas Solo nggak beda jauh suhunya sama Jakarta, tapi tetep banyak tuh yang naik sepeda. Jalur khusus sepeda ini memang benar-benar memberi rasa aman. Soalnya kalau di Jakarta, saya tuh lebih ngeri kesenggol sama mobil dan motor yang seliweran dibanding sama panasnya.
Di jalur khusus sepeda dan pejalan kaki ini, mobil atau motor dilarang parkir. Parkir justru mengambil badan jalan jalur cepat. PEMKOT Solo pantas diacungi dua jempol nih. Pada hari sebelumnya dalam suatu forum diskusi, Ketua Bappeda Kota Solo mengungkapkan bahwa "Gambaran Solo ke depan adalah Solo masa lalu".
Dalam benerrrr, terbuktikan tidak semua kota mengartikan modernisasi = bangun jalan dan punya mobil atau motor. Di kesempatan itu pula seorang wakil dari Dinas PU mengungkapkan kalau mereka sudah mengusulkan untuk perbaikan jalur lambat di jalan lainnya melalui DAK. Namun ditolak oleh Pemerintah Pusat. Oohhhhh :-(
Kereta api yang menyatu dengan lalu lintas
Tapi setelah ditunggu hampir 1,5 jam (sampai pukul 5 sore), kok KA-nya nggak kunjung lewat. Usut punya usut, ternyata menurut satpam hotel KA sudah melintas beberapa saat sebelum kami sampai. Padahal sebelumnya kami tanya satpam lain, katanya belum lewat :-(
Di hari sebelumnya kami sudah melihat KA ini melintas, beriringan dengan mobil atau motor yang lalu lalang di Jl. Slamet Riyadi tanpa pembatas. Di Indonesia, pemandangan unik ini mungkin hanya tertinggal di Solo. Semoga dapat bertahan!
Menambah wawasan bgt liputannya m'shanty, jadi pgn ke solo dehh, hehehe.
BalasHapusPeran pemda sangat berperan besar lho, walaupun sebagian masyarakat sadar tp pemerintah gak pedulian bakal susah jg mewujudkannya. Beruntunglah warga Solo punya pemerintah yg peduli. Teman saya di Padang lg suntuk karena penataan kota yg kebablasan:(
jadi pengen pulang
BalasHapus