Tampilkan postingan dengan label dimana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dimana. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Mei 2013

Jelajah tiga benteng kolonial di Cilacap

Begitu woro-woro tur "Berlabuh di Nusa Kambangan, 10-11 Mei 2013" diluncurkan oleh Jaladwara di awal April, saya langsung tanya orang rumah siapa yang berminat. Seketika Kaysan langsung angkat tangan. Bayangan bakal didongengi sejarah dan kemping sepertinya menjadi dua daya tarik tur tsb baginya. Adik saya, Tia, juga tertarik bergabung dalam tur Jaladwara tsb.



Tulisan ini lebih banyak menyentuh sisi personal dari pengalaman ikut tur kali ini. Sisi yang tidak tertangkap di dokumentasi kegiatan panitia. Sementara dokumentasi lengkap kegiatan jelajah hari pertama dan kedua yang terekam panitia bisa disimak di:
Trip Berlabuh di Nusa Kambangan [Hari 1]
Trip Berlabuh di Nusa Kambangan [Hari 2]

Minggu, 31 Maret 2013

Jakarta - Karawang pp

Tahun 2012 kami tutup dengan wisata murah meriah, yang bikin kami tidur pulas di malam pergantian tahun. Kami menjajal rute Jatinegara Baru (Stasiun Buaran, Jaktim) - Karawang pp, menyusuri jalan di sepanjang tepian Kalimalang. Total jarak yang ditempuh sekitar 54 km sekali jalan. 

Dalam rombongan ada Tia (adik), Wira (suami Tia), Adi (suami), Kaysan (anak), dan saya. Kami berangkat di hari Minggu pagi, 30 Desember 2012. Lalu bermalam di rumah ortu Wira di Karawang. Kemudian kembali di pagi hari berikutnya, 31 Desember 2012.

Ide menyusuri Kalimalang terbersit begitu saja. Setelah beberapa kali kami berlima menikmati asyiknya bersepeda menyusuri tepian Kanal Banjir Timur (Pondok Kopi-Pantai Marunda, sekitar 45 km pp), terpikir untuk bersepeda menyusuri sungai lainnya.  Apalagi menurut info dari ibunda Wira, jalan inspeksi Kalimalang dalam dalam kondisi baik hingga Karawang.

Rencana awalnya Kaysan, anak lelaki kami yang berusia 9 tahun akan dibonceng. Tapi kami justru khawatir ia akan terserang kantuk di jalan bila dibonceng. Akhirnya setelah melihat ketetapan hatinya untuk bersepeda sendiri serta kemampuannya bersepeda jarak jauh di tengah lalu lintas normal, maka dengan Bismillah Adi dan saya memberanikan diri untuk memberi Kaysan kesempatan.

Jumat, 16 November 2012

Keliling Yogya Cara Selow

Menyusuri Yogya di pagi hari @Jl. Mangkubumi
Menjelajah kota adalah salah satu cara berwisata yang saya dan Kaysan gemari. Tidak sekedar mendatangi obyek-obyek wisata, tapi mengalami kota seperti layaknya warga lokal menjalani kesehariannya. 

Dalam sebuah kesempatan berkunjung ke Kota Yogyakarta belum lama  berselang, kami sepakat untuk mencoba berkeliling Yogya dengan naik sepeda. 

Perjalanan sehari penuh kami nikmati dengan santai, tanpa tergesa-gesa, atau woles dalam bahasa walikan yang asal katanya slow, dipandu seorang sahabat yang sedang berupaya mengembalikan budaya bersepeda di Yogyakarta.

Catatan perjalanan bersepeda sejauh 20 km tersebut, lengkap dengan segala detailnya saya tuliskan untuk mengajak Anda ikut menikmati kota dengan cara yang berbeda. Tulisan lengkap bisa dibaca di situs SIWOLES.  

Catatan: 
Biaya sewa
a. Biaya sewa tiap sepeda: Rp 25.000/24 jam (belum termasuk biaya antar jemput sepeda, Rp 10.000/ sepeda)
b. Biaya sewa boncengan balita: Rp 10.000/24 jam
c. Biaya sewa sepeda per minggu atau per bulan, sila kontak pengelola
d. Kami juga menyediakan pemandu wisata. Biaya bisa dinegosiasikan.

Fasilitas termasuk
- Helm sepeda
- Rantai kunci sepeda
- Lampu

Info lebih lengkap kontak SIWOLES.

Selasa, 10 April 2012

Jumat, 25 November 2011

Ikutan Nimbrung di Ciliwung

"Heeeeei...itukan fotoku sama Ical,” seru Bagas spontan begitu melihat standing banner Young Birdwatcher yang terpasang di acara “Nimbrung di Ciliwung” minggu lalu (20/11/11).*



Siang itu saya dan suami menemani Kaysan dan sobatnya Bagas, serta Dhika (kakak Bagas) ikut peluncuran Program Young Birdwatcher yang digagas Komunitas Transformasi Hijau, disingkat Trashi.

Komunitas Ciliwung Condet
Kami sampai di Sekretariat Komunitas Ciliwung Condet (KCC), tuan rumah acara Nimbrung di Ciliwung, sekitar pukul 14:00 WIB. Ternyata acara Young Birdwatcher belum mulai. Sambil menunggu, kami pun berkeliling melihat-lihat Sekretariat KCC.

Perhatian saya langsung tersita pada dua orang panitia yang sedang mencuci gelas & piring. Ternyata konsumsi panitia disajikan dengan gelas & piring beling, untuk mengurangi sampah. Pengunjung juga dapat mengisi botol minumnya dari dispenser air galon yang disediakan.

Luar biasa, KCC sadar betul pentingnya mengurangi sampah demi menjaga kebersihan Sungai Ciliwung yang dicintainya. Menurut Situs TNOL, KCC mulai aktif melakukan konservasi di bantaran Sungai Ciliwung Condet sejak tahun 1990-an.

Kerja keras tsb kini mulai terasa manfaatnya. Bantaran sungai tampak asri, rindang penuh dengan pepohonan, dan bersih. Pohon salak condet yang sudah langka bisa dijumpai di sini, bahkan beberapa tengah berbuah. Beruntung kami bisa mencicipi buahnya yang manis agak sepat.

Jalan setapak menurun dari tanah membawa kami tepat ke tepi Sungai Ciliwung. Terlihat barisan pengunjung mengenakan pelampung jingga antri di dermaga bambu. Antusias menunggu giliran susur sungai dengan perahu karet bermesin. Kaysan, Bagas, dan Dhika langsung tergoda ingin mencoba juga. Tapi kami putuskan untuk kembali setelah acara birdwatching.

Young Birdwatcher
Program Young Birdwatcher perdana ini dipandu Ady Kristanto, salah seorang penulis buku Burung Ibukota yang baru luncur 23 Agustus 2011 lalu. Rute perjalanan melintas kebun bambu, dan rumpun ilalang, serta menyusur kampung.

Sayang tak banyak jenis burung yang dijumpai siang itu. Tapi rupanya tak membuat animo peserta surut. Apalagi Ady juga mengenalkan tumbuhan dan serangga, serta cara membuat mainan roket ilalang dan gelembung dari daun jarak. Malah belakangan para Young Birdwatcher ini asyik main lempar batu terbang di sungai.

Di perjalanan pulang ke rumah, Kaysan sempat bertanya: “Bu, acara Young Birdwatcher tiap hari apa?”. Usut punya usut, ternyata Kaysan berminat daftar jadi anggota ;-) Tampaknya Trashi telah jeli memilih strategi yang memikat hati kaum muda Jakarta agar peduli kotanya.

Berkano di Ciliwung
Setelah selesai birdwatching, peserta diajak mengikuti acara dongeng. Tapi Kaysan dan Bagas malah menagih janji untuk susur sungai. Tampaknya sungai lebih menarik bagi mereka berdua. Sayangnya bensin untuk perahu sudah habis, jadi acara susur sungai tidak bisa lanjut.

Ternyata Kaysan dan Bagas tetap bersikeras ingin turun kembali ke sungai. “Ya udah mau berenang aja” rengek Kaysan. “Aku mau lempar batu terbang” timpal Bagas. Sementara saya mendesak mereka untuk bergabung ke acara dongeng saja.

Oalah...ketika kata sepakat tak kunjung dicapai, lewatlah Bang Yani sang penyelamat. Ketika tahu dua anak ini sedang kecewa tak bisa susur sungai, beliau menawarkan untuk naik kano saja yang tak perlu bensin. Wah langsung disambut dengan senang bukan kepalang oleh keduanya.

Sulit untuk percaya bila tak menyaksikan sendiri kalau berkano di di Sungai Ciliwung ternyata asyik. Terima kasih Bang Yani.

Dongeng berhadiah
Selesai berkano dan ketika saya tengah pamit dengan Ady Kristanto untuk pulang, selintas terdengar dialog dari acara dongeng oleh Komunitas Dongeng Kanvas yang masih berlangsung. “Namanya siapa?” tanya sang pendongeng. “Kaysan” jawab si anak.

Walah sempet-sempetnya Kaysan ikutan kuis :-) Alhasil Kaysan pulang bawa hadiah paket buku. Makasih banyak ya Komunitas Dengeng Kanvas. Lengkap deh pengalaman hari ini, walaupun cuma ikutan setengah hari. Kalau baca di sini kayaknya acaranya dari pagi seru-seru semua ya.

Sayangnya di kunjungan kemarin saya tak sempat berkenalan dengan para pegiat KCC. Hari sudah semakin sore, kami harus bergegas pulang, celana anak-anak basah karena berkano. Hanya dari jauh saja Ady Kristanto sempat menunjukkan Bang Kodir sang ketua. Lain kesempatan inshaAllah kami akan kembali.

Catatan:

*) Tampaknya foto itu diambil ketika Bagas ikut acara Waterbird Census di Suaka Margasatwa Muara Angke hampir dua tahun yang lampau. Ical adalah temannya Kaysan dan Bagas yang kini bermukim di Pekanbaru.

Berkunjung ke KCC ini bisa jadi alternatif wisata edukatif di kota. Untuk informasi lebih lanjut bisa hubungi:
Bang Kodir Ketua KCC di 0813 807 48996
Hendra Aquan Transformasi Hijau (Trashi) di 0815 798 8053
Sudirman Asun Ciliwung Insitute di 021 71140277

Koordinat lokasi KCC -6.277,106.8505
Naik Angkot Merah 07 jurusan PGC Cililitan - Condet. Turun di Pangkalan Bambu, Jl. Munggang, setelah Kelurahan Balekambang

Sabtu, 19 Februari 2011

Serunya main di kuburan...

Kaysan dan daftar pencarian
"Buuu, udah ketemu, itu di sebelah sana nisannya....”, terdengar teriakan Kaysan setelah berhasil menemukan nisan Olivia Marianne Raffles. Istri dari Thomas Stamford Raffless, Letnan Gubernur Jawa pada masa pemerintahan Inggris.

Kami memang tengah asyik bermain menemukan tulisan tersembunyi. Permainan yang tak asing bagi anak-anak ini banyak sekali dijumpai dalam majalah anak-anak. Hanya kali ini kami bermain di tengah areal yang dulunya pemakaman umum tertua di Jakarta, namun sudah beralih fungsi menjadi Museum Taman Prasasti sejak 1977.

Kaysan yang sudah sempat mulai bosan dan capek ketika diajak menyusuri Taman Prasasti sambil membaca satu per satu koleksi prasasti/nisan, ternyata balik bersemangat ketika diajak bermain. Malah dia jadi tertantang untuk menemukan semua nama yang ada dalam daftar di notes biru Tante Mel.



Rabu, 05 Agustus 2009

Jelajah Desa Borobudur

17-19 Juli 2009 yang lalu kami liburan keluarga terselubung, berkedok Temu Nasional Peta Hijau di Desa Borobudur. Bersama-sama rombongan kawan-kawan Peta Hijau Jakarta, Kaysan, suami, dan saya naik KA Bisnis Senja Utama Solo. Hari masih pagi ketika kereta memasuki Stasiun Tugu , Yogyakarta. Setelah sarapan di Gudeg Yu Jum, kami langsung lanjut ke Desa Borobudur naik bis umum kapasitas 25 orang dari Terminal Jombor.

Terminal bis Borobudur

Setelah menyimpan barang di rumah keluarga Bpk Sasmudi di Dusun Maitan, yang menjadi tempat tinggal kami bertiga selama 3 hari di Desa Borobudur dan makan siang, kami langsung bersiap-siap untuk menjelajahi Desa Borobudur. Berikut beberapa catatan perjalanan kami.

Rabu, 28 Januari 2009

Selasar Sunaryo revisited

Entah sudah yang ke berapa kali Kaysan ke Selasar Sunaryo Art Space. Saya tidak ingat pasti. Sempat ada satu periode kami cukup sering bolak-balik ke situ, karena si Ayah punya proyek di situ. Tapi hanya ada satu momen yang masih jelas dalam ingatan, yakni pas Kaysan sudah mahir merangkak tapi belum bisa jalan. Dia merangkak bebas di pendopo yang di bawah.


Dari beberapa kali kunjungan itu, tampaknya dia belum perhatian dengan karya-karya yang dipajang. Tapi surprise...surprise...di kunjungan terakhir (30/12/08) ternyata Kaysan bisa mengapresiasi karya-karya yang dipajang. Bahkan boleh dikata dia sangat-sangat menikmati dan betah berlama-lama. Padahal kami ke sana cuma iseng ngajak jalan-jalan T' Tia dan O' Wira yang pas lagi ikut ke Bandung.

Berhubung di dalam ruangan tidak boleh memotret, jadi oleh-olehnya cuma foto-foto narsis kami di luar dan toko souvenirnya :-)




Kalau berniat mengajak si kecil berkunjung, ini detailnya:

Selasar Sunaryo Art Space
Jl. Bukit Pakar Timur No.100, Bandung - 40198
Selasa - Minggu (10:00 - 17:00 WIB)
Masuk terakhir 30 menit sebelum tutup
Tutup setiap senin dan libur nasional

Info panduan: Sally Texania
E: selasar@bdg.centrin.net.id
T: 022-2507939 atau 022-2516508

Senin, 01 Desember 2008

Solo, oasis bagi pengendara sepeda

Hari ini di milis Greenmap Jakarta lagi ramai tentang rencana jalur sepeda Blok M-Monas, yang katanya akan beroperasi akhir Desember 2008. Jadi ingat untuk merampungkan tulisan perjalanan Kaysan dan saya ke Solo minggu yang lalu. Perjalanan yang menyisakan secercah harapan akan sistem transportasi yang lebih baik di negeri ini. Ini tulisan kedua dan terakhir.



Sambutan hangat hotel bintang 4
Sekitar pukul 09:30 kami sampai di Stasiun Purwosari Solo, yang berlokasi di ujung Jl. Slamet Riyadi (jalan protokol seperti Jl. Sudirman di Jakarta). Begitu turun kereta api, kami langsung disambut para tukang becak yang pantang menyerah menawarkan jasanya.

Walaupun awalnya kami berniat naik taksi, tapi pikir-pikir apa salahnya coba naik becak. Toh dari hasil browsing saya sudah tahu hotel bintang 4 tujuan kami masih di Jl. Slamet Riyadi ini juga. Tanpa tawar-menawar saya setuju saja dengan tarif Rp. 10.000,-. Becak pun melaju di jalur lambat khusus sepeda sepanjang Jl. Slamet Riyadi dan Kaysan senang tak kepalang.

Bukan sok jumawa kalau saya sebut-sebut bintangnya si hotel. Soalnya saya sempat dag...dig...dug ...waktu semakin dekat ke tujuan. Mungkin karena mental minder makhluk ibukota, yang seumur hidup nggak pernah terbayang bakal masuk lobby hotel berbintang pakai becak. Kayaknya si abang merasakan kekhawatiran saya, makanya dia sampai bilang: "biasa kok mbak sampai dalam."

Terbukti memang kekhawatiran saya sama sekali nggak beralasan. Untuk pertama kalinya, saya naik becak sampai masuk lobby hotel bintang 4 dan dapat sambutan hangat pula. Hmm...jadi siapa bilang kendaraan tak bermotor kalah gengsi dengan mobil atau motor? Rupanya hal ini tak berlaku di Solo. Luar biasa.....

2,5 m untuk jalur sepeda Kalo kota lain masih pro dan kontra dengan jalur sepeda, tidak demikian dengan Solo. Ternyata jalur lambat khusus sepeda bukan hanya di sisi kiri Jl. Slamet Riyadi, yang saya lalui naik becak saat menuju hotel. Di sisi sebelah kanan Jl. Slamet Riyadi yang satu arah dan panjangnya 3,5 km ini, ada juga jalur khusus sepeda sekaligus pejalan kaki yang tampaknya baru diperbaiki dengan corn block. Lebar jalur khusus ini tak kurang dari 2,5 m (pokoknya lebih dari 8 langkah saya).

Ternyata nggak perlu tuh jauh-jauh ke Eropa untuk liat surganya pejalan kaki dan sepeda. Jelas-jelas Solo nggak beda jauh suhunya sama Jakarta, tapi tetep banyak tuh yang naik sepeda. Jalur khusus sepeda ini memang benar-benar memberi rasa aman. Soalnya kalau di Jakarta, saya tuh lebih ngeri kesenggol sama mobil dan motor yang seliweran dibanding sama panasnya.

Di jalur khusus sepeda dan pejalan kaki ini, mobil atau motor dilarang parkir. Parkir justru mengambil badan jalan jalur cepat. PEMKOT Solo pantas diacungi dua jempol nih. Pada hari sebelumnya dalam suatu forum diskusi, Ketua Bappeda Kota Solo mengungkapkan bahwa "Gambaran Solo ke depan adalah Solo masa lalu".

Dalam benerrrr, terbuktikan tidak semua kota mengartikan modernisasi = bangun jalan dan punya mobil atau motor. Di kesempatan itu pula seorang wakil dari Dinas PU mengungkapkan kalau mereka sudah mengusulkan untuk perbaikan jalur lambat di jalan lainnya melalui DAK. Namun ditolak oleh Pemerintah Pusat. Oohhhhh :-(

Kereta api yang menyatu dengan lalu lintas
Masih ada satu lagi keunikan transportasi di Kota Solo. Di sisi kanan jalur cepat Jl. Slamet Riyadi, kita bisa lihat jalur KA. Di jalur ini setiap pagi dan sore hari melintas KA Feeder Solo-Wonogiri. Di sore terakhir kami di Solo, Kaysan dan saya menunggu KA ini lewat sambil "piknik" di jalur hijau Jl. Slamet Riyadi untuk mengabadikannya.

Tapi setelah ditunggu hampir 1,5 jam (sampai pukul 5 sore), kok KA-nya nggak kunjung lewat. Usut punya usut, ternyata menurut satpam hotel KA sudah melintas beberapa saat sebelum kami sampai. Padahal sebelumnya kami tanya satpam lain, katanya belum lewat :-(

Di hari sebelumnya kami sudah melihat KA ini melintas, beriringan dengan mobil atau motor yang lalu lalang di Jl. Slamet Riyadi tanpa pembatas. Di Indonesia, pemandangan unik ini mungkin hanya tertinggal di Solo. Semoga dapat bertahan!

Minggu, 30 November 2008

Adi Sucipto, bandara pertama terkoneksi kereta api

Kaysan dan saya baru kembali dari perjalanan "unik" ke Solo. Sebenarnya ini perjalanan kerja untuk saya, Kaysan diajak karena nggak ada yang bisa jaga dia di rumah Jakarta. Terbayang akan sulit mengatur acara khusus ke tempat wisata di tengah padatnya jadwal. Jadi untuk Kaysan perjalanan kali ini diniatkan "sebatas" mencoba aneka macam kendaraan.

Ternyata di luar dugaan perjalanan ini membawa oleh-oleh secercah harapan akan sistem transportasi yang lebih baik di negeri ini. Berikut tulisan yang pertama dari dua tulisan.
 


Senin (24/11/08) kami berdua meninggalkan Jakarta dengan tujuan Solo. Pagi itu dingin sekali karena  hujan, ditambah ruang tunggu bandara yang AC-nya menusuk tulang. Kaysan yang awalnya dari rumah bercelana pendek, langsung minta ganti kostum. Kami naik pesawat Mandala Jakarta - Yogya Pk. 6:30 WIB.

Pesawat pun mendarat di Bandara Adi Sucipto-Jogya, setelah penerbangan sekitar satu jam. Selanjutnya kami harus menemukan Stasiun Maguwo, tempat berhentinya KA Prambanan Express (Pramex) yang akan membawa kami ke Solo. Stasiun yang resmi beroperasi tanggal 26 Agustus 2008 ini harusnya dapat dijangkau jalan kaki dari Bandara Adi Sucipto kalau menurut hasil browsing kami.

Tengok kiri-kanan kok nggak ada petunjuk ke Stasiun Maguwo. Setelah bertanya di Information, baru deh ketemu. Ternyata stasiunnya bener-bener langsung di seberang Bandara. Lihat gambar di samping, Kaysan lagi duduk di stasiun dan tampak tepat di belakangnya adalah bangunan Bandara. Jadi keluar anjungan kedatangan, tinggal jalan sedikit lalu langsung belok ke kiri. Wuih...ini artinya Bandara Adi Sucipto jadi Bandara pertama yang terkoneksi langsung dengan kereta api. Bravo Yogya! Bandara ini juga terintegrasi dengan halte bis Transjogya. Tiga moda transportasi bersatu. Keren kan...!

Saat kami sampai stasiun, loket KA Pramex masih tutup, KA baru akan datang sekitar pukul 09:00 WIB, sementara waktu masih menunjukkan pukul 08:15 WIB. Jadi kami duduk-duduk dulu di stasiun yang sederhana tapi bersih itu. Tak berapa lama, loket pun buka dan Kaysan saya minta beli dua tiket yang harganya Rp. 7.000 per orang.

Tepat pukul 8:45 WIB, terlihat KA Pramex dengan warna hijau segar masuk stasiun. KA Pramex ini mirip KRL Jabodetabek, hanya jauhhhhhh lebih bersih dan lengang...semua penumpang dapat tempat duduk. Sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan hijau asri, utamanya ladang jagung dan tembakau. KA ini tidak seperti KRL Jabodetabek yang penuh dengan pedagang asongan. Hanya ada satu penjaja makanan, minuman dan majalah yang menggunakan troli

Setelah perjalanan sekitar 40 menit, kami sampai di Stasiun Purwosari, Solo. Stasiun ini berlokasi di ujung Jl. Slamet Riyadi, yang merupakan jalan protokol Kota Solo (kayak Jl. Sudirman di Jakarta). Akomodasi aneka kelas dengan mudah dapat dijangkau dengan becak seharga Rp. 10.000 - 15.000 dari stasiun ini.

Biaya perjalanan dengan rute ini juga jadi jauh lebih murah. Per orang untuk tiket pesawat Jakarta-Yogya hanya Rp. 300 rb + Rp. 7.000 tiket KA Pramex. Padahal kalau kami naik pesawat Jakarta-Solo minimal harus keluar Rp. 590 ribu per orang.

Berikut foto-foto di stasiun dan sepanjang perjalanan.





Catatan:
KA Prambanan Express melayani komuter dari Yogyakarta ke dua tujuan:

  • Jalur 1: Yogya - Solo (Berhenti di Stasiun Tugu, Lempuyangan, Maguwo, Klaten, Purwosari, Solo Balapan, Jebres, Palur)
  • Jalur 2: Yogya - Kutoarjo (Berhenti di Stasiun Tugu, Wates, Jenar, Kutoarjo)
Tarif flat Rp. 7.000 per orang per jalur
Jadwalnya sekitar 1,5 jam sekali, untuk pastinya lihat di sini

Selasa, 02 September 2008

Surga Dunia di Kebun Raya Cibodas

“If paradise still exist on earth, Cibodas must have been part of it" ~ Ungkapan Dr. F.W.Went, seorang ahli fisiologi tumbuhan asal Jerman yang lama bermukim di Indonesia tersebut, terbukti memang benar adanya. Kami benar-benar jatuh cinta dengan Kebun Raya Cibodas (KRC).

Akhir pekan (23-24/08/2008) lalu adalah kali kedua kami berkunjung KRC dengan Kaysan, berselang 2 tahun dari kunjungan yang pertama. Kalau bukan karena frustasi dengan macet Jakarta-Puncak, pasti sudah lebih sering kami berkunjung ke surga dunia ini.

Bila berniat ke KRC coba atur untuk menginap di Wisma Tamu kepunyaan LIPI, yang lokasinya tepat di tengah-tengah KRC ini. Selain agar punya waktu untuk eksplorasi KRC  setelah bermacet-macet di perjalanan, kamu pasti akan merasakan pengalaman tak ada duanya, bermalam di tengah kebun yang luasnya 125 H ini. Wisma Tamu LIPI ini disewakan untuk umum, tapi mesti booking setidaknya 2 bulan sebelumnya kalau ingin bermalam di weekend.

Ngapain di Kebun Raya Cibodas?
Yang pasti sih bisa liat koleksi tanamannya yang banyak banget. Di dekat Wisma Tamu LIPI ada rumah kaca isinya koleksi kaktus dan anggrek. Di dekat Wisma Tamu LIPI juga ada taman lumut dan pohon bunga bangkai.

Selain itu bisa juga trekking ke Air Terjun Ciismun yang jaraknya sekitar 1,5 km dari Wisma Tamu. Melewati deretan pohon Bunya-bunya raksasa yang umurnya sudah lebih dari 140 tahun. Hampir sama tua dengan KRC yang umurnya genap 156 tahun bulan April yang lalu.

Atau sepertinya asyik juga untuk bird watching...Kami memang belum pernah coba, tapi ada papan daftar burung yang sering tampak di KRC. Sepertinya bila berkunjung lagi ke KRC, kami akan cari kawan-kawan yang ahli perburungan. Seahli kawan-kawan JGM yang jadi pemandu bird watching di Suaka Margasatwa Muara Angke.

Hal lain yang pernah kami coba adalah keliling KRC naik sepeda. Medannya memang naik turun sih, tapi worth to try and fun. Genjot campur dorong... Sepeda mesti bawa sendiri, karena nggak ada sewa-sewaan sepeda di sana.

Dan yang pastinya anak-anak nggak akan pernah bosen adalah lari-larian di rumput hijau yang terhampar luas dan main air selokannya yang jernih asli pegunungan.


Bagaimana cara bermalam di Wisma Tamu LIPI?
Langsung saja kontak: Ibu Devi (T/F: 0263-512233)

Tersedia:
    Wisma Sakura (5 kamar + dapur kecil) Rp. 300.000,- per kamar/malam
    Wisma Medinila (9 kamar, tanpa dapur) Rp. 250.000,- per kamar/malam

Tiap kamar dilengkapi kasur spring bed, kamar mandi di dalam dan air panas.

Harga kamar untuk hari biasa dan biasa sama saja. Tapi hari biasa bisa booking per kamar, sementara untuk weekend harus satu unit Wisma. Untuk menghitung harga Weekend tinggal dikalikan saja.
    Misal: untuk Wisma Medinila = 9 x Rp. 250.000

Makan tersedia catering yang enak dan harga terjangkau. Harga untuk sekali makan:
    Makan pagi Rp. 15.000 per orang
    Makan siang dan malam mulai dari Rp. 17.500,-

Catatan: Foto rumah kayu bercerobong asap oleh Rudy.

Senin, 21 Juli 2008

Birdwatching Suaka Margasatwa Muara Angke


Siapa yang nggak percaya kalo di Jakarta masih bisa Birdwatching? Nah sudah kami buktikan sendiri sabtu (19 Juli 2008) yang lalu...ternyata masih bisa loh di Suaka Margasatwa Muara Angke (SMMA)!

Kami khusus datang dari segala penjuru Jakarta, untuk membuktikannya. Ada Wilsa, Ritta, Fifi, Lia (dari Cawang, UKI), Yoyoh, Damar (dari BSD coret), Ketty, Eko, Riguel (dari Rawamangun), Yuri, Puti, Nayla, Melly (dari Pondok Bambu), Salma, Shofa (dari Pamulang), Ulam, Bulan (Koran Anak Berani), Etty, Tia, Shanty, Kaysan (dari Jatinegara Baru). Semua total ada 8 anak dan 13 dewasa.

Kedatangan kami ke SMMA disambut K' Edi dan K' Hendra, relawan koordinator wisata alam Jakarta Green Monster (JGM). Perjalanan kami di jalur jembatan kayu sepanjang 900 m dipandu kakak-kakak relawan JGM dari Jurusan Biologi UNJ (K' Farah, K' Mia, K' Pandu, K' Gugum, K' Indah, aduh nggak semua ingat namanya...maaf ya kak). Setengah perjalanan, datang K' Ady suhunya dunia perburungan.

Hari ini kami berhasil melihat burung prenjak, cangak abu, kuntul besar, walet, itik benjut, pecuk ular, pecuk padi, dan kutilang. Kami juga dengar suara burung tikukur. Selain itu di SMMA kami lihat juga capung, ikan dan monyet ekor panjang.

Menurut kakak-kakak pemandu, di Pulau Rambut burungnya jauhhhhh lebih banyak. Sering kita dapat jackpot kotorannya di kepala. Tapi jarak pulaunya sekitar 19 km lepas pantai, jadi ya mesti pakai perahu.

Sementara K' Ady cerita di beberapa daerah lain di Jakarta juga bisa dilakukan pengamatan burung, hanya enaknya di daerah pesisir seperti SMMA, ukuran burungnya relatif besar, jadi anak-anak lebih mudah mengamati.

Hutan bakaunya sendiri tidak terlalu rimbun. Upaya penghijauan pun tidak terlalu berhasil. Apalagi biangnya kalau bukan sampah plastik yang terbawa dari hulu sungai. Sampah plastik ini menutupi akar-akar nafas pohon bakau dan sejenisnya, akibatnya ya pohonnya mati.

Sebagai penutup, K' Edy ngajarin kami semua sebuah lagu baru supaya selalu ingat cara untuk melestarikan hutan bakau.

(Nada seperti naik-naik ke puncak gunung)

Jalan-jalan ke hutan mangrove
Hijau rindang menarik
(2x)
Tapi sayang kok banyak sampah
Coba tanya kenapa?
(2x)
Ayo kita kurangi sampah
Daur pakai kembali
(2x)
Buang sampah pada tempatnya
Biar mangrovenya bersih
(2x)


Terima kasih ya kakak-kakak dari JGM semuanya! Terima kasih juga untuk semua peserta rombongan piknik kali ini, sampai ketemu di jalan-jalan berikutnya.


Kalau belum puas liat foto-fotonya, liat juga hasil jepretan Eko yang lebih pro dan punyanya Ketty atau Tia.

Informasi untuk mengatur kunjungan dapat dilihat secara lengkap di situs Jakarta Green Monster

Senin, 19 Mei 2008

Kebun Raya Bogor

Tumben-tumben si Ayah 'n gank-nya rapat pergerakan di Kebun Raya Bogor (KRB), jadilah kami ikutan dengan agenda eksplorasi KRB hari Sabtu (17/05/08) kemarin. Kaysan semangat banget mau ke KRB karena tema Klab Main bulan ini tentang serangga dan dia kepengen ke Museum Zoologi liat aneka serangga.

Kami nebeng berangkat ke KRB sama om Prima dan keluarga naik mobil. Jadilah, Alia, anaknya om Prima, teman eksplorasi KRB Kaysan.

Moral of the story #1: Kalau ajak anak jalan-jalan, ajaklah temen yang kira-kira seumuran, it will make your life a lot easier :-)

Kami mulai dari Museum Zoologi, yang lokasinya tepat di sebelah kiri pintu masuk utama KRB. Walaupun tua, koleksinya sungguh menarik untuk anak-anak. Koleksi serangganya lumayan banyak. Kerangka Paus Biru sepanjang 27 m yang paling "luar biasa" menurut duo bocah ini. Kaysan malah udah buat rencana balik lagi ke situ, untuk dibacain semua papan info tiap binatang.




Rute perjalanan juga sepenuhnya Alya dan Kaysan yang nentuin, paling saya kasih tantangan-tantangan aja. Kayak pas saya tanya "pilih jalan aspal atau melipir di turap rumput?". Mereka berdua langsung tertantang pilih turap rumput. Malah mereka jadinya turun naik di saluran sebelah turap rumput itu.

Saya juga selalu tanya ke mereka, "apakah mereka sudah lelah atau lanjut", jaga-jaga aja biar jangan sampe berakhir dengan harus gendong mereka berdua :-). Jawabannya tentu bisa ditebak..."lanjuttttttt". Pikir-pikir di akhir hari itu, mereka sudah jalan lumayan jauh di kebun yang luasnya 87 ha ini.



Selain turap rumput, batang pohon yang rubuh di tengah KRB juga jadi tantangan seru untuk duo bocah ini. Mereka sibuk cari cara naik ke pohon dan berusaha jaga keseimbangan nyebrang pohon rubuh itu. Lebih-lebih ada pohon bolong yang bisa dimasuki.

Moral of the story #2: playground yang seru itu ternyata tidak melulu harus buatan. Sepertinya KRB akan lebih sering kami kunjungi nih. Masih banyak banget yang bisa dieksplorasi.





Bagaimana ke KRB dari Jakarta?
  • Dengan bis, naik jurusan Bogor (bisa dari Kampung Rambutan atau UKI), turun di terminal Baranangsiang. Lalu tinggal lanjut deh naik angkot yang ke KRB (langsung tanya aja sama supirnya).
  • Dengan KRL, naik dari Tanah Abang/Kota langsung ke Bogor. Dari stasiun lanjut jalan kaki atau naik angkot (langsung tanya aja sama supirnya).
  • Dengan mobil pribadi, lewat tol Jagorawi keluar di Bogor. Di pertigaan keluar tol, belok ke kanan lalu ambil lurus di pertigaan Tugu Kujang dan terus saja melipir sisi KRB. Pintu masuk utama ada di depan Robinson Department Store. Dari pintu ini, mobil boleh masuk sampai Cafe Botanique.

HTM KRB -  Orang Rp. 9.000,-       Mobil Rp. 15.000,-

HTM Museum Zoologi  - Gratis, tapi harus masuk KRB dulu.

Peta KRB bisa unduh di gambar di bawah (sengaja di unggah ukuran besar). Kalau bingung mau mulai ekplorasi dari mana, katanya ada peta empat rute jalan kaki di dalam KRB.

Minggu, 23 September 2007

Pusat Primata Schmutzer

Hari pertama puasa kali ini (13/09/07) diisi dengan jalan-jalan ke Pusat Primata Schmutzer di KB Ragunan. Gara-gara si Tante Mel yang baru balik dari Palangkaraya kangen sama orang utan.

Selain Kaysan + Ibunya, di rombongan kita ada Nayla + Tante Mel dan Adri + Ical yang ditemeni mbak Lia. Berangkatnya kita di drop ibunya Adri sama Ical. Pulangnya kita naik busway yang haltenya pas di pintu masuk KB Ragunan.

Anak-anak seneng banget liat koleksi primata, terutama sama Dige (keluarga Makaka dari Sulawesi) yang sangat responsif. Anak-anak sempet "uji nyali" juga pas masuk gua kawasan orang utan yang gelap banget dan lumayan panjang. Kita juga pas bisa liat Gorila makan siang jam 12:00.

Ke dalam Schmutzer nggak boleh bawa makanan dan minuman (kecuali minuman dalam botol minum yang bukan kemasan langsung buang). Tapi bagusnya dimana-mana ada water fountain. Untuk anak-anak ini hal baru, jadi tiap kali liat pasti anak-anak stop untuk minum :-)

Kalau yang belum pernah, cepetan deh ke sana. Sebelum makin nggak ke urus. Canopy bridge aja sekarang udah nggak bisa dinaiki.

Eh...tapi ada kabar baik, waktu kami ke sana lagi bulan November 2007, canopy bridgenya sudah diperbaiki.


Bagaimana ke sana?
Naik bis Transjakarta koridor Dukuh Atas-Ragunan. Turun di halte terakhir, yang lokasi tepat di pintu masuk utara KB Ragunan. Beli tiket masuk KB Ragunan di pintu masuk ini, lalu jalan ke arah timur laut sekitar 500 m. Pusat Primata Schmutzer lokasinya di dekat pintu timur. Baru beli tiket Schmutzer di pintu masuk Schmutzer.

HTM KB Ragunan
Dewasa: Rp. 4.000 + Asuransi Rp. 300
Anak (3-12 thn): Rp. 3.000 + Asuransi Rp. 300

HTM Schmutzer
Dewasa & anak (3-12 thn): Rp. 5.000

Jumat, 08 Juni 2007

Minangkabau Highlight

Setelah hampir 10 hari di Sumatera Barat berdua saja dengan Kaysan, teman kantor lama saya, Lanny dan Melly, menyusul dari Jakarta. Selang sehari, ayah juga menyusul ke Padang. Kami berlima memang sudah janjian untuk menghabiskan waktu bersama keliling Sumatera Barat dari hari kamis s.d. minggu tanggal 12 s.d.15 April 2007.

Tak lama memang, hanya 4 hari, karena jumlah cuti Lanny dan ayah terbatas. Alhasil, perjalanan dalam waktu singkat mengunjungi cukup banyak kota, Padang – Payakumbuh – Bukittingi – Maninjau, ini bila kami buka paket tur, sepertinya cocok dinamai "Minangkabau Highlight".*

Sekiranya hanya punya waktu singkat dan ingin ajak anak mencicipi cukup banyak Sumatera Barat, mungkin itinerary ini bisa jadi masukan. Ada baiknya, tambahkan kunjungan ke Istana Pagaruyung di Batusangkar.

Muaro Padang
Kami berkeliling dengan kijang keluaran tahun 1990 milik salah seorang etek (aka: tante). Mobil sudah bisa dipakai sejak pagi. Tapi ternyata kami masih harus menunggu keluar tanda pembayaran pajak tahunannya sebelum pergi untuk perjalanan jauh. Akhirnya kami putuskan untuk putar-putar ke Muaro Padang. Melewati Jembatan Siti Nurbaya dan mengarah ke Gunung Padang yang konon ada “kuburan” Siti Nurbaya-nya Marah Rusli.

Teluk Bungus
Sudah puas melihat Muaro dari segala sudut, ternyata urusan mobil masih belum selesai. Kami pun berbelok  ke Teluk Bungus untuk makan siang Gulai Kepala Ikannya yang kondang. Teluk Bungus itu sekitar satu jam perjalanan ke arah selatan dari Padang, lewat Teluk Bayur. Berlawanan arah dari niat awal kami ke Bukittinggi dan Payakumbuh yang berada di utara. Tak rugi kami singgah ke Teluk Bungus, karena birunya Samudera Indonesia membuat kami tak sanggup berkata-kata. Sampai Lanny berandai-andai ingin membangun rumah di sini.



Baruh – Tanjung Ipuh
Alhamdulillah selesai juga akhirnya urusan mobil. Langsung kami mengarah ke utara menuju Bukittinggi. Berhubung hari sudah beranjak petang, tujuan kami langsung menuju Koto Kociak, Payakumbuh. Kami bermalam di Rumah Gadang replika-nya Tek Dewi, etek yang juga berbaik hati meminjamkan kami mobil, di Baruh, Tanjung Ipuh.

Kami terperangah saat bangun pagi, sejauh mata memandang dari teras, yang tampak hanya warna hijau di sekeliling rumah. Malam memang telah larut ketika kami sampai, sehingga hanya gelap yang menyambut. Pisang goreng dan ketan, menu sarapan pagi khas urang awak kami santap sambil duduk di teras...luar biasa nikmatnya. Kaysan langsung akrab dengan kenalan baru. Fendi namanya, anak Uni Upik yang merawat rumah.

Pincuran situjuah
Walaupun rumah tempat kami menginap sudah dilengkapi kamar mandi, namun pagi itu kami memutuskan mandi di Pincuran Situjuah, sekitar 500 meter dari rumah. Anak-anak biasa mandi di talaga-nya. Fendi langsung nyebur ke talaga, sementara Kaysan sempat ragu saat melihat warna air yang agak keruh. Tapi akhirnya Kaysan mau juga masuk air setelah dibujuk-bujuk dan ditemani ayah. "Ihhh geli, kaki Kaysan digigit ikan-ikan kecil," seru Kaysan.

Harau yang memukau
Kalau mau main di air terjun berpasir, jernih dan di tengah hutan…dimana lagi kalau bukan di Harau. Harau itu seperti lembah yang dikelilingi tebing batu. Kaysan senanggggggggggg sekali main air. Padahal anginnya menusuk tulang, barangkali karena nabrak tebing jadi mantul lagi anginnya.

Kabarnya di Harau ada tujuh air terjun. Pada kunjungan kemarin Kaysan baru sempat liat tiga. Mesti balik lagi nih kalau Kaysan udah rada besar untuk tracking.

Echo point
Di Harau ada titik yang ditandai sebagai Zero Point. Kalau berdiri di sini dan teriak, maka akan terdengar echo yang sempurna. Kaysan mencoba teriak: “ayah”. Tak berapa lama terdengar gemanya. Kaysan sampai terkaget-kaget, sontak dicoba lagi berulang-ulang, padahal lagi hujan gerimis.

Kuda lumping karet
Di seberang Echo Point ada Echo Homestay yang posisinya nempel di tebing. Jalan masuknya melintas sungai yang ada jembatan goyang dengan jalan kaki . Kami minum lemon hangat di CafĂ©-nya. Tempatnya eksotis banget, bersih dan terawat. Kaysan paling berkesan sama ayunan dari ban yang dimodifikasi seperti kuda lumping….hmmm kreatif sekali.

Catatan Echo Homestay: Masuk Harau, belok ke kiri. Posisinya kira-kira 500 m dari pintu masuk Harau. Total ada 20 kamar di Echo Homestay ini. Setiap bungalow ada yang satu kamar, dua kamar atau empat kamar. Harganya flat, Rp. 300 rb per kamar/hari.

Monyet-monyet di Panorama Ngarai Sianok
Dari Harau, perjalanan lanjut ke arah Bukittinggi. Sampai di Bukittingi sudah malam, jadi kami cari makan lalu langsung istirahat di Pondok Nawawi. Sabtu pagi baru kami muter-muter di Bukittinggi. Kami ke Panorama-nya Ngarai Sianok.

Tapi ternyata Kaysan terkesan bukan sama pemandangan Ngarai Sianok, justru sama monyet-monyet di situ. Jadi Kaysan sibuk ngasih makan monyet-monyet itu. Lihat deh anak-anak monyet sama ibunya ini, mengingatkan posisi nempel favorit Kaysan sama ibu.

Pelangi…pelangi…
Setelah makan siang, kami bergerak menuju Danau Maninjau dari Bukittinggi via jalan yang melintas dasar Ngarai Sianok. Kali ini anggota rombongan berkurang satu. Lanny langsung ke Bandara dari Bukittinggi untuk balik ke Jakarta.

Setelah sampai di Danau Maninjau lewat jalan kelok 44, ami bingung mau milih nginap dimana. Akhirnya kami sampai satu lap di Danau Maninjau yang kelilingnya sekitar 70 km-an itu di tengah cuaca yang rada gerimis. Pas lagi keliling ini ternyata muncul Pelangi. Wuih…Kaysan girang bukan kepalang….komentarnya: “Pelangi bagus banget ya ibu”.

Kelelawar raksasa
Selain Pelangi, Kaysan juga senang banget pas menjelang magrib banyak muncul kelelawar. Beda dengan kelelawar yang pernah kami lihat di Jawa, di Danau Maninjau ini kelelawarnya besar sekali, katanya memang spesies yang khas daerah tersebut.

Pinggiran danau
Ternyata hasil ngobrol-ngobrol sama penduduk lokal, pilihan akomodasi di Danau Maninjau hanya dua jenis yaitu: bisa diakses mobil tapi tepian danau langsung terjal atau harus lewat pematang sawah tapi pinggirannya rada berpantai.

Berhubung sudah gelap dan “supir” udah lelah, akhirnya kami pilih Hotel Tan Dirih yang bisa diakses mobil. Hotelnya relatif murah tapi bersih banget layaknya hotel berbintang. Cocok sekali untuk istirahat. Wangi handuk dan sprei-nya bener-bener ngangenin kalau kata Melly.

Paginya pas matahari terbit, lagi-lagi kami terpesona dengan pemandangan pagi. Ternyata posisi hotel kami benar-benar di bibir danau.

Catatan Hotel Tan Dirih: Setelah turun lewat kelok 44, di persimpangan belok ke kanan yang ke arah Bayur. Posisinya sekitar 1 km dari persimpangan Kelok 44 itu, di sebelah kiri jalan. Ada 9 kamar, harganya Rp. 120 rb/hari.

Pantai “rahasia”
Pukul 12:00 siang kami check-out hotel, bergerak menuju Padang via Lubuk Basung, Tiku, Pariaman. Jadi kami nggak lewat Kelok 44 lagi. Tapi sebelum meninggalkan Maninjau, berhubung masih penasaran mau lihat pantai berpasir di Danau Maninjau, akhirnya kami mutusin mau lihat penginapan Rizal Beach. Menurut Lonely Planet, Hotel ini punya pantai ini yang paling bagus di seantero Danau Maninjau.

Petunjuk menuju Rizal Beach hanya sepotong papan yang menunjuk ke arah pemantang sawah. Iseng kami ikutin deh nyusurin pematang sawah. Ternyata oh ternyata…nggak nyesel deh mesti jalan 200 m-an. Asli pantainya bener-bener bagus, cuma penginapannya udah berhenti operasi. Jadi yang kami lihat adalah pantai bagus dengan reruntuhan bungalow, terbayang persis pantai rahasia di buku cerita petualang Enyd Blyton. Kaysan langsung main air sambil ngumpulin  pensi (sejenis ciput khas Danau Maninjau). Kalau nggak di stop, bisa lupa kalau ayahnya nungguin di mobil.

Selasa, 08 Mei 2007

Jelajah Koto Kociak ala Bolang

padaku paman berjanji
mengajak libur di desa
hatiku riang tidak terkira
terbayang sudah aku di sana
mandi di sungai
turun ke sawah
menggiring ternak ke kandang...


Alhamdulillah, lirik lagu tersebut benar bisa dialami oleh Kaysan. Sepanjang long-weekend tanggal 6-8 April 2007, Kaysan berpetualang bak si "Bolang" (bocah petualang, salah satu tontonan favoritnya). Bersama Bang Fachril dan Bang Gafi (walaupun masih bocah Gafi jalannya oom untuk Kaysan), serta Datuk Adil, Kaysan menjelajah Koto Kociak di Kabupaten Limapuluh Koto, Sumbar. Koto Kociak adalah kampung kelahiran alm. Datuk Syahril, ayah saya, yang tak sempat dikenalnya. Lokasinya sekitar 20 km arah barat daya dari Kota Payakumbuh.

Tangguak ikan
“Kaysan mau makan apa siang ini?" kata Datuk Adil. “Kalau mau makan ikan, tangguak (ambil) dulu ikannya di kolam,” lanjut Datuk. Langsung Kaysan dengan mantappp jawab “ya...makan ikan”! (hmmm pasti karena tawaran tangguak ikannya, bukan karena doyan ikannya :-)). (Foto 1 & Foto 2)

Kumpulin telur
“Sebelum ke rumah Buyut Timah bakar ikan, kita ke kandang ayam dulu ya,” kata Datuk Adil. Datuk ini peternak ayam petelur. Tiap hari bisa terkumpul sekitar 6.000 telur. Hari ini Kaysan ikut bantuin ya…Tuk. Kabupaten Limapuluh Koto ternyata memang penghasil telur terbesar di Sumatra Barat. (Foto 3 & Foto 4)

Mandi di sungai
Setelah makan enak dengan Ikan Nila Bakar yang fresh from the pond, kita main ke sungai di Baruh. Pertama kali nih Kaysan ke sungai. Langsung asyik main sama Bang Fachril dan Gafi. Ayo tebak siapa yang lemparannya paling jauh. (Foto 5 & Foto 6)



Naik-naik ke puncak gunung
Nggak lama main air di sungai, karena ternyata yang lain pada nggak bawa baju ganti. Akhirnya diterusin jalan-jalan ke puncak bukit. Sayang kita lupa apa nama bukitnya. Lihat trio Bolang beraksi! (Foto 7 & Foto 8)

Mancing yuk
Bang Fachril semangat sekali mau ngajarin Kaysan mancing. “Ssstttt Kaysan, kalau mancing nggak boleh ngomong aja, tuh ikan-ikan pada kabur. Yuk kita pindah ke kolam satunya, ikan-ikannya lebih besar!” kata Bang Fachril. Tapi tetap saja akhirnya nggak dapat ikan juga. Kailnya jadi putus, karena ikannya kegedean. (Foto 9)

Yuk makan coklat putih
Gagal mancing ikan, “kita petik buah coklat aja yuk” ajak Bang Fachril. Jangankan Kaysan, ibupun baru tau kalau isi buah coklat ternyata putih seperti sirsak. Rasanya juga mirip sama sirsak, asem-asem manis. Biji dalamnya yang dijemur sampai kering, lalu dijual ke pengumpul untuk dibawa ke pabrik dan diolah jadi coklat. (Foto 10, Foto 11 & Foto 12)

Sekarang ini harga biji coklat kering sekitar Rp. 16.000 per kg. "Sekitar dua tahun sudah berbuah kok dan nggak perlu perawatan khusus," menurut Datuk Adil. Jadi nggak heran pohon coklat kembali jadi primadona di sekitar sini.

Pulang Kampuang

Nyaris sebulan penuh kami habiskan di Sumatera Barat, mulai dari tanggal 3 April s.d. 1 Mei 2007. Thanks to Air Asia yang promo Jakarta-Padang 186 ribu pp per orang. 

Pilihan ke Sumatera Barat bukan tanpa alasan khusus. Sebagai asli keturunan urang awak, masih banyak keluarga besar saya yang tinggal di sana. Berlibur ke kampung halaman sendiri sekaligus silaturahmi setidaknya menghemat biaya akomodasi, karena sanak keluarga pastinya dengan gembira menyambut kami bermalam.

Sekolah Alam Minangkabau
Sekitar dua minggu kami tinggal di Padang, bersama keluarga kembaran alm. ayah saya. Miya, anak beliau satu-satunya sedang merintis Sekolah Alam Minangkabau (SAM) dan sejak di Jakarta, saya sudah mohonkan ijin bagi Kaysan untuk bergabung sebagai murid tamu di sekolah tsb. Gita, anak semata wayang dari Miya dalam waktu singkat menjadi akrab dengan Kaysan.  


Petualangan ala Bolang di Koto Kociak  
Di akhir pekan, 6-8 April 2007, menumpang mobil seorang saudara kami ikut pulang kampung ke Koto Kociak (sekitar 20 km dari Kota Payakumbuh) di Kab. Limapuluh Koto. Di tempat ini alm. ayah saya dilahirkan dan dibesarkan. Di tempat ini pula Kaysan beruntung bisa merasakan langsung kehidupan di desa yang saya tulis sendiri dalam posting Petualangan ala Bolang di Koto Kociak

Minangkabau Highlight
Setelah hampir 10 hari di Sumatera Barat, ada Lanny, Melly, dan juga ayah Adi datang bergabung dari Jakarta. "Mumpung ada yang orang lokal," ujar Lanny yang asli Betawi ketika memutuskan menyusul kami.  Kami berlima mengunjungi Teluk Bungus, Payakumbuh, dan Bukittinggi dengan mobil kijang pinjaman dari seorang etek.  

Tanpa Lanny yang harus kembali ke Jakarta lebih awal, kami melanjutkan perjalanan ke Danau Maninjau. Lalu kembali ke Padang menyusuri pesisir barat, melewati Lubung Basung, Tiku, dan Pariaman. Perjalanan ala paket wisata selama 4 hari (12-15 April 2007) ini saya tulis posting terpisah dalam Minangkabau Highlight.

Di kaki Gunung Merapi
Adi berpisah dengan kami sesampainya di Padang. Sementara Melly yang urang awak tetap tinggal di Sumatera Barat sampai akhir bulan. Kaysan dan saya sempat pula ikut menyusul Melly yang tengah menengok kampungnya di Desa Batu Palano, Sungai Puar, Kab. Agam. 

Berdua dengan Kaysan, kami naik travel Padang-Bukittingi menuju desa ini terletak sekitar 10 km sebelum masuk kota Bukittinggi dari arah Padang via Lembah Anai. Dampak gempa yang baru terjadi sebulan sebelum kedatangan kami (06/03/07), tampak jelas di desa ini.

Kami tinggal selama 3 malam (26-29 April 2007) di desa yang berlokasi di kaki Gunung Merapi dan penghasil sayur-sayuran ini. Di kanan kiri jalan tampak para perempuan sedang mencuci wortel hasil panen. Kaysan sempat ikut membantu panen tomat di salah satu ladang milik saudara Melly. 

Kaysan menemukan sobat baru, Ari namanya. Seorang anak asli Batu Palano yang kurang lebih sebaya dengannya. Rumah Ari pun tak luput dari dampak gempa. Namun keceriaan tak hilang dari raut mukanya. Menarik mengamati dua bocah yang berbeda bahasa, tapi tampak asyik bermain bersama. 

Ternyata bahasa sama sekali tak menjadi kendala bagi anak-anak. Mereka bermain mobil balap di atas gundukan pasir, tepat di depan rumah tempat kami menginap. Dalam waktu singkat Kaysan pun sudah menguasai cara berhitung dalam bahasa minang.

Bukittinggi dan Bonjol
Selama bermalam di Batu Palano, bersama Melly kami sempat mengunjungi Bukittinggi dua kali naik angkot jurusan Koto Baru - Bukittinggi. Pada kunjungan yang pertama kami menelusuri jalan kota hingga sampai di Kebun Binatang. 

Dari Kebun Binatang kami menyeberangi Jembatan Limpapeh dan masuk ke Benteng Fort de Kock. Kami menghabiskan waktu cukup lama di benteng menunggu Kaysan yang asyik bermain dengan meriam yang ada di sana. Setelah puas bermain di benteng, kami bergerak menuju Jam Gadang. 

Sepanjang sore kami hanya duduk di bangku taman dan asyik memperhatikan kesibukan warga kota di Jam Gadang sambil menikmati pisang goreng di alas daun. Sementara Kaysan tampak sibuk dan asyik bermain gelembung sabun. Setelah matahari semakin turun, kami pun segera mencari angkot untuk kembali ke Batu Palano. 

Kami sempat menggunakan Peta Hijau Bukittinggi, sekaligus ingin menjajalnya ketika berjalan. Tapi akhirnya bingung sendiri dengan format peta yang menggunakan foto satelit sebagai peta dasar. Sehingga kembali kami berpegang pada Indonesian Travel Atlas keluaran Periplus.

Kali kedua ke Bukittinggi, tujuan kami mencari gulo-gulo tare, permen khas Bukittinggi, di Pasar Ateh. Permen ini dibuat dari sari tebu yang dimasak hingga jadi karamel. Permen berbentuk segiempat kecil dan berwarna coklat ini dibalut dengan tepung beras sangrai. Rasanya bikin ketagihan.

Setelah berhasil menemukan ibu penjual permen, kami sempat kehabisan ide mau melakukan apalagi untuk menghabiskan sisa hari. Mendadak terbersit ide untuk mengunjungi Bonjol, kota sekitar 60 km utara dari Bukittinggi, yang tepat di garis ekuator. Kisah perjalanan spontan bin nekat ke Bonjol, yang sempet bikin perasaan ketar-ketir ini bisa dibaca di blognya Melly.  

Sungai Bangek dan pelelangan ikan
Kaysan menemukan dua pengalaman tak terlupakan di kota Padang. Pertama adalah kunjungan ke sentra pembenihan dan budidaya ikan air tawar di Sungai Bangek yang letaknya sekitar 15 km dari pusat kota Padang. Kedua adalah pengalaman menyaksikan para nelayan di Pantai Padang kembali dari laut dan melelang hasil tangkapannya.

Jadwal perjalanan
Berikut ringkasan jadwal perjalanan kami selama nyaris sebulan di Sumatera Barat
03 - 06   Padang
06 - 08   Koto Kociak (20 km dari Payakumbuh), Kab. Limapuluh Koto
09 - 11   Padang
12          Padang – Teluk Bungus – Payakumbuh – Koto Kociak
13          Koto Kociak – Payakumbuh – Harau – Bukittinggi
14          Bukittinggi – Maninjau
15          Maninjau – Lubuk Basung – Pariaman – Padang
16 – 25  Padang
22          Sungai Bangek (20 km dari Pusat Kota Padang)
26 – 29  Batu Palano (10 km sebelum Bukittinggi), Kab Agam
28          Bonjol (60 km utara Bukittinggi)
30          Sungai Bangek lagi
1 Mei     Pulang ke Jakarta

ShareThis

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...