Tampilkan postingan dengan label solo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label solo. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Desember 2008

Solo, oasis bagi pengendara sepeda

Hari ini di milis Greenmap Jakarta lagi ramai tentang rencana jalur sepeda Blok M-Monas, yang katanya akan beroperasi akhir Desember 2008. Jadi ingat untuk merampungkan tulisan perjalanan Kaysan dan saya ke Solo minggu yang lalu. Perjalanan yang menyisakan secercah harapan akan sistem transportasi yang lebih baik di negeri ini. Ini tulisan kedua dan terakhir.



Sambutan hangat hotel bintang 4
Sekitar pukul 09:30 kami sampai di Stasiun Purwosari Solo, yang berlokasi di ujung Jl. Slamet Riyadi (jalan protokol seperti Jl. Sudirman di Jakarta). Begitu turun kereta api, kami langsung disambut para tukang becak yang pantang menyerah menawarkan jasanya.

Walaupun awalnya kami berniat naik taksi, tapi pikir-pikir apa salahnya coba naik becak. Toh dari hasil browsing saya sudah tahu hotel bintang 4 tujuan kami masih di Jl. Slamet Riyadi ini juga. Tanpa tawar-menawar saya setuju saja dengan tarif Rp. 10.000,-. Becak pun melaju di jalur lambat khusus sepeda sepanjang Jl. Slamet Riyadi dan Kaysan senang tak kepalang.

Bukan sok jumawa kalau saya sebut-sebut bintangnya si hotel. Soalnya saya sempat dag...dig...dug ...waktu semakin dekat ke tujuan. Mungkin karena mental minder makhluk ibukota, yang seumur hidup nggak pernah terbayang bakal masuk lobby hotel berbintang pakai becak. Kayaknya si abang merasakan kekhawatiran saya, makanya dia sampai bilang: "biasa kok mbak sampai dalam."

Terbukti memang kekhawatiran saya sama sekali nggak beralasan. Untuk pertama kalinya, saya naik becak sampai masuk lobby hotel bintang 4 dan dapat sambutan hangat pula. Hmm...jadi siapa bilang kendaraan tak bermotor kalah gengsi dengan mobil atau motor? Rupanya hal ini tak berlaku di Solo. Luar biasa.....

2,5 m untuk jalur sepeda Kalo kota lain masih pro dan kontra dengan jalur sepeda, tidak demikian dengan Solo. Ternyata jalur lambat khusus sepeda bukan hanya di sisi kiri Jl. Slamet Riyadi, yang saya lalui naik becak saat menuju hotel. Di sisi sebelah kanan Jl. Slamet Riyadi yang satu arah dan panjangnya 3,5 km ini, ada juga jalur khusus sepeda sekaligus pejalan kaki yang tampaknya baru diperbaiki dengan corn block. Lebar jalur khusus ini tak kurang dari 2,5 m (pokoknya lebih dari 8 langkah saya).

Ternyata nggak perlu tuh jauh-jauh ke Eropa untuk liat surganya pejalan kaki dan sepeda. Jelas-jelas Solo nggak beda jauh suhunya sama Jakarta, tapi tetep banyak tuh yang naik sepeda. Jalur khusus sepeda ini memang benar-benar memberi rasa aman. Soalnya kalau di Jakarta, saya tuh lebih ngeri kesenggol sama mobil dan motor yang seliweran dibanding sama panasnya.

Di jalur khusus sepeda dan pejalan kaki ini, mobil atau motor dilarang parkir. Parkir justru mengambil badan jalan jalur cepat. PEMKOT Solo pantas diacungi dua jempol nih. Pada hari sebelumnya dalam suatu forum diskusi, Ketua Bappeda Kota Solo mengungkapkan bahwa "Gambaran Solo ke depan adalah Solo masa lalu".

Dalam benerrrr, terbuktikan tidak semua kota mengartikan modernisasi = bangun jalan dan punya mobil atau motor. Di kesempatan itu pula seorang wakil dari Dinas PU mengungkapkan kalau mereka sudah mengusulkan untuk perbaikan jalur lambat di jalan lainnya melalui DAK. Namun ditolak oleh Pemerintah Pusat. Oohhhhh :-(

Kereta api yang menyatu dengan lalu lintas
Masih ada satu lagi keunikan transportasi di Kota Solo. Di sisi kanan jalur cepat Jl. Slamet Riyadi, kita bisa lihat jalur KA. Di jalur ini setiap pagi dan sore hari melintas KA Feeder Solo-Wonogiri. Di sore terakhir kami di Solo, Kaysan dan saya menunggu KA ini lewat sambil "piknik" di jalur hijau Jl. Slamet Riyadi untuk mengabadikannya.

Tapi setelah ditunggu hampir 1,5 jam (sampai pukul 5 sore), kok KA-nya nggak kunjung lewat. Usut punya usut, ternyata menurut satpam hotel KA sudah melintas beberapa saat sebelum kami sampai. Padahal sebelumnya kami tanya satpam lain, katanya belum lewat :-(

Di hari sebelumnya kami sudah melihat KA ini melintas, beriringan dengan mobil atau motor yang lalu lalang di Jl. Slamet Riyadi tanpa pembatas. Di Indonesia, pemandangan unik ini mungkin hanya tertinggal di Solo. Semoga dapat bertahan!

Minggu, 30 November 2008

Adi Sucipto, bandara pertama terkoneksi kereta api

Kaysan dan saya baru kembali dari perjalanan "unik" ke Solo. Sebenarnya ini perjalanan kerja untuk saya, Kaysan diajak karena nggak ada yang bisa jaga dia di rumah Jakarta. Terbayang akan sulit mengatur acara khusus ke tempat wisata di tengah padatnya jadwal. Jadi untuk Kaysan perjalanan kali ini diniatkan "sebatas" mencoba aneka macam kendaraan.

Ternyata di luar dugaan perjalanan ini membawa oleh-oleh secercah harapan akan sistem transportasi yang lebih baik di negeri ini. Berikut tulisan yang pertama dari dua tulisan.
 


Senin (24/11/08) kami berdua meninggalkan Jakarta dengan tujuan Solo. Pagi itu dingin sekali karena  hujan, ditambah ruang tunggu bandara yang AC-nya menusuk tulang. Kaysan yang awalnya dari rumah bercelana pendek, langsung minta ganti kostum. Kami naik pesawat Mandala Jakarta - Yogya Pk. 6:30 WIB.

Pesawat pun mendarat di Bandara Adi Sucipto-Jogya, setelah penerbangan sekitar satu jam. Selanjutnya kami harus menemukan Stasiun Maguwo, tempat berhentinya KA Prambanan Express (Pramex) yang akan membawa kami ke Solo. Stasiun yang resmi beroperasi tanggal 26 Agustus 2008 ini harusnya dapat dijangkau jalan kaki dari Bandara Adi Sucipto kalau menurut hasil browsing kami.

Tengok kiri-kanan kok nggak ada petunjuk ke Stasiun Maguwo. Setelah bertanya di Information, baru deh ketemu. Ternyata stasiunnya bener-bener langsung di seberang Bandara. Lihat gambar di samping, Kaysan lagi duduk di stasiun dan tampak tepat di belakangnya adalah bangunan Bandara. Jadi keluar anjungan kedatangan, tinggal jalan sedikit lalu langsung belok ke kiri. Wuih...ini artinya Bandara Adi Sucipto jadi Bandara pertama yang terkoneksi langsung dengan kereta api. Bravo Yogya! Bandara ini juga terintegrasi dengan halte bis Transjogya. Tiga moda transportasi bersatu. Keren kan...!

Saat kami sampai stasiun, loket KA Pramex masih tutup, KA baru akan datang sekitar pukul 09:00 WIB, sementara waktu masih menunjukkan pukul 08:15 WIB. Jadi kami duduk-duduk dulu di stasiun yang sederhana tapi bersih itu. Tak berapa lama, loket pun buka dan Kaysan saya minta beli dua tiket yang harganya Rp. 7.000 per orang.

Tepat pukul 8:45 WIB, terlihat KA Pramex dengan warna hijau segar masuk stasiun. KA Pramex ini mirip KRL Jabodetabek, hanya jauhhhhhh lebih bersih dan lengang...semua penumpang dapat tempat duduk. Sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan hijau asri, utamanya ladang jagung dan tembakau. KA ini tidak seperti KRL Jabodetabek yang penuh dengan pedagang asongan. Hanya ada satu penjaja makanan, minuman dan majalah yang menggunakan troli

Setelah perjalanan sekitar 40 menit, kami sampai di Stasiun Purwosari, Solo. Stasiun ini berlokasi di ujung Jl. Slamet Riyadi, yang merupakan jalan protokol Kota Solo (kayak Jl. Sudirman di Jakarta). Akomodasi aneka kelas dengan mudah dapat dijangkau dengan becak seharga Rp. 10.000 - 15.000 dari stasiun ini.

Biaya perjalanan dengan rute ini juga jadi jauh lebih murah. Per orang untuk tiket pesawat Jakarta-Yogya hanya Rp. 300 rb + Rp. 7.000 tiket KA Pramex. Padahal kalau kami naik pesawat Jakarta-Solo minimal harus keluar Rp. 590 ribu per orang.

Berikut foto-foto di stasiun dan sepanjang perjalanan.





Catatan:
KA Prambanan Express melayani komuter dari Yogyakarta ke dua tujuan:

  • Jalur 1: Yogya - Solo (Berhenti di Stasiun Tugu, Lempuyangan, Maguwo, Klaten, Purwosari, Solo Balapan, Jebres, Palur)
  • Jalur 2: Yogya - Kutoarjo (Berhenti di Stasiun Tugu, Wates, Jenar, Kutoarjo)
Tarif flat Rp. 7.000 per orang per jalur
Jadwalnya sekitar 1,5 jam sekali, untuk pastinya lihat di sini

ShareThis

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...