Tampilkan postingan dengan label sumbar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sumbar. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 Juni 2007

Minangkabau Highlight

Setelah hampir 10 hari di Sumatera Barat berdua saja dengan Kaysan, teman kantor lama saya, Lanny dan Melly, menyusul dari Jakarta. Selang sehari, ayah juga menyusul ke Padang. Kami berlima memang sudah janjian untuk menghabiskan waktu bersama keliling Sumatera Barat dari hari kamis s.d. minggu tanggal 12 s.d.15 April 2007.

Tak lama memang, hanya 4 hari, karena jumlah cuti Lanny dan ayah terbatas. Alhasil, perjalanan dalam waktu singkat mengunjungi cukup banyak kota, Padang – Payakumbuh – Bukittingi – Maninjau, ini bila kami buka paket tur, sepertinya cocok dinamai "Minangkabau Highlight".*

Sekiranya hanya punya waktu singkat dan ingin ajak anak mencicipi cukup banyak Sumatera Barat, mungkin itinerary ini bisa jadi masukan. Ada baiknya, tambahkan kunjungan ke Istana Pagaruyung di Batusangkar.

Muaro Padang
Kami berkeliling dengan kijang keluaran tahun 1990 milik salah seorang etek (aka: tante). Mobil sudah bisa dipakai sejak pagi. Tapi ternyata kami masih harus menunggu keluar tanda pembayaran pajak tahunannya sebelum pergi untuk perjalanan jauh. Akhirnya kami putuskan untuk putar-putar ke Muaro Padang. Melewati Jembatan Siti Nurbaya dan mengarah ke Gunung Padang yang konon ada “kuburan” Siti Nurbaya-nya Marah Rusli.

Teluk Bungus
Sudah puas melihat Muaro dari segala sudut, ternyata urusan mobil masih belum selesai. Kami pun berbelok  ke Teluk Bungus untuk makan siang Gulai Kepala Ikannya yang kondang. Teluk Bungus itu sekitar satu jam perjalanan ke arah selatan dari Padang, lewat Teluk Bayur. Berlawanan arah dari niat awal kami ke Bukittinggi dan Payakumbuh yang berada di utara. Tak rugi kami singgah ke Teluk Bungus, karena birunya Samudera Indonesia membuat kami tak sanggup berkata-kata. Sampai Lanny berandai-andai ingin membangun rumah di sini.



Baruh – Tanjung Ipuh
Alhamdulillah selesai juga akhirnya urusan mobil. Langsung kami mengarah ke utara menuju Bukittinggi. Berhubung hari sudah beranjak petang, tujuan kami langsung menuju Koto Kociak, Payakumbuh. Kami bermalam di Rumah Gadang replika-nya Tek Dewi, etek yang juga berbaik hati meminjamkan kami mobil, di Baruh, Tanjung Ipuh.

Kami terperangah saat bangun pagi, sejauh mata memandang dari teras, yang tampak hanya warna hijau di sekeliling rumah. Malam memang telah larut ketika kami sampai, sehingga hanya gelap yang menyambut. Pisang goreng dan ketan, menu sarapan pagi khas urang awak kami santap sambil duduk di teras...luar biasa nikmatnya. Kaysan langsung akrab dengan kenalan baru. Fendi namanya, anak Uni Upik yang merawat rumah.

Pincuran situjuah
Walaupun rumah tempat kami menginap sudah dilengkapi kamar mandi, namun pagi itu kami memutuskan mandi di Pincuran Situjuah, sekitar 500 meter dari rumah. Anak-anak biasa mandi di talaga-nya. Fendi langsung nyebur ke talaga, sementara Kaysan sempat ragu saat melihat warna air yang agak keruh. Tapi akhirnya Kaysan mau juga masuk air setelah dibujuk-bujuk dan ditemani ayah. "Ihhh geli, kaki Kaysan digigit ikan-ikan kecil," seru Kaysan.

Harau yang memukau
Kalau mau main di air terjun berpasir, jernih dan di tengah hutan…dimana lagi kalau bukan di Harau. Harau itu seperti lembah yang dikelilingi tebing batu. Kaysan senanggggggggggg sekali main air. Padahal anginnya menusuk tulang, barangkali karena nabrak tebing jadi mantul lagi anginnya.

Kabarnya di Harau ada tujuh air terjun. Pada kunjungan kemarin Kaysan baru sempat liat tiga. Mesti balik lagi nih kalau Kaysan udah rada besar untuk tracking.

Echo point
Di Harau ada titik yang ditandai sebagai Zero Point. Kalau berdiri di sini dan teriak, maka akan terdengar echo yang sempurna. Kaysan mencoba teriak: “ayah”. Tak berapa lama terdengar gemanya. Kaysan sampai terkaget-kaget, sontak dicoba lagi berulang-ulang, padahal lagi hujan gerimis.

Kuda lumping karet
Di seberang Echo Point ada Echo Homestay yang posisinya nempel di tebing. Jalan masuknya melintas sungai yang ada jembatan goyang dengan jalan kaki . Kami minum lemon hangat di CafĂ©-nya. Tempatnya eksotis banget, bersih dan terawat. Kaysan paling berkesan sama ayunan dari ban yang dimodifikasi seperti kuda lumping….hmmm kreatif sekali.

Catatan Echo Homestay: Masuk Harau, belok ke kiri. Posisinya kira-kira 500 m dari pintu masuk Harau. Total ada 20 kamar di Echo Homestay ini. Setiap bungalow ada yang satu kamar, dua kamar atau empat kamar. Harganya flat, Rp. 300 rb per kamar/hari.

Monyet-monyet di Panorama Ngarai Sianok
Dari Harau, perjalanan lanjut ke arah Bukittinggi. Sampai di Bukittingi sudah malam, jadi kami cari makan lalu langsung istirahat di Pondok Nawawi. Sabtu pagi baru kami muter-muter di Bukittinggi. Kami ke Panorama-nya Ngarai Sianok.

Tapi ternyata Kaysan terkesan bukan sama pemandangan Ngarai Sianok, justru sama monyet-monyet di situ. Jadi Kaysan sibuk ngasih makan monyet-monyet itu. Lihat deh anak-anak monyet sama ibunya ini, mengingatkan posisi nempel favorit Kaysan sama ibu.

Pelangi…pelangi…
Setelah makan siang, kami bergerak menuju Danau Maninjau dari Bukittinggi via jalan yang melintas dasar Ngarai Sianok. Kali ini anggota rombongan berkurang satu. Lanny langsung ke Bandara dari Bukittinggi untuk balik ke Jakarta.

Setelah sampai di Danau Maninjau lewat jalan kelok 44, ami bingung mau milih nginap dimana. Akhirnya kami sampai satu lap di Danau Maninjau yang kelilingnya sekitar 70 km-an itu di tengah cuaca yang rada gerimis. Pas lagi keliling ini ternyata muncul Pelangi. Wuih…Kaysan girang bukan kepalang….komentarnya: “Pelangi bagus banget ya ibu”.

Kelelawar raksasa
Selain Pelangi, Kaysan juga senang banget pas menjelang magrib banyak muncul kelelawar. Beda dengan kelelawar yang pernah kami lihat di Jawa, di Danau Maninjau ini kelelawarnya besar sekali, katanya memang spesies yang khas daerah tersebut.

Pinggiran danau
Ternyata hasil ngobrol-ngobrol sama penduduk lokal, pilihan akomodasi di Danau Maninjau hanya dua jenis yaitu: bisa diakses mobil tapi tepian danau langsung terjal atau harus lewat pematang sawah tapi pinggirannya rada berpantai.

Berhubung sudah gelap dan “supir” udah lelah, akhirnya kami pilih Hotel Tan Dirih yang bisa diakses mobil. Hotelnya relatif murah tapi bersih banget layaknya hotel berbintang. Cocok sekali untuk istirahat. Wangi handuk dan sprei-nya bener-bener ngangenin kalau kata Melly.

Paginya pas matahari terbit, lagi-lagi kami terpesona dengan pemandangan pagi. Ternyata posisi hotel kami benar-benar di bibir danau.

Catatan Hotel Tan Dirih: Setelah turun lewat kelok 44, di persimpangan belok ke kanan yang ke arah Bayur. Posisinya sekitar 1 km dari persimpangan Kelok 44 itu, di sebelah kiri jalan. Ada 9 kamar, harganya Rp. 120 rb/hari.

Pantai “rahasia”
Pukul 12:00 siang kami check-out hotel, bergerak menuju Padang via Lubuk Basung, Tiku, Pariaman. Jadi kami nggak lewat Kelok 44 lagi. Tapi sebelum meninggalkan Maninjau, berhubung masih penasaran mau lihat pantai berpasir di Danau Maninjau, akhirnya kami mutusin mau lihat penginapan Rizal Beach. Menurut Lonely Planet, Hotel ini punya pantai ini yang paling bagus di seantero Danau Maninjau.

Petunjuk menuju Rizal Beach hanya sepotong papan yang menunjuk ke arah pemantang sawah. Iseng kami ikutin deh nyusurin pematang sawah. Ternyata oh ternyata…nggak nyesel deh mesti jalan 200 m-an. Asli pantainya bener-bener bagus, cuma penginapannya udah berhenti operasi. Jadi yang kami lihat adalah pantai bagus dengan reruntuhan bungalow, terbayang persis pantai rahasia di buku cerita petualang Enyd Blyton. Kaysan langsung main air sambil ngumpulin  pensi (sejenis ciput khas Danau Maninjau). Kalau nggak di stop, bisa lupa kalau ayahnya nungguin di mobil.

Selasa, 08 Mei 2007

Jelajah Koto Kociak ala Bolang

padaku paman berjanji
mengajak libur di desa
hatiku riang tidak terkira
terbayang sudah aku di sana
mandi di sungai
turun ke sawah
menggiring ternak ke kandang...


Alhamdulillah, lirik lagu tersebut benar bisa dialami oleh Kaysan. Sepanjang long-weekend tanggal 6-8 April 2007, Kaysan berpetualang bak si "Bolang" (bocah petualang, salah satu tontonan favoritnya). Bersama Bang Fachril dan Bang Gafi (walaupun masih bocah Gafi jalannya oom untuk Kaysan), serta Datuk Adil, Kaysan menjelajah Koto Kociak di Kabupaten Limapuluh Koto, Sumbar. Koto Kociak adalah kampung kelahiran alm. Datuk Syahril, ayah saya, yang tak sempat dikenalnya. Lokasinya sekitar 20 km arah barat daya dari Kota Payakumbuh.

Tangguak ikan
“Kaysan mau makan apa siang ini?" kata Datuk Adil. “Kalau mau makan ikan, tangguak (ambil) dulu ikannya di kolam,” lanjut Datuk. Langsung Kaysan dengan mantappp jawab “ya...makan ikan”! (hmmm pasti karena tawaran tangguak ikannya, bukan karena doyan ikannya :-)). (Foto 1 & Foto 2)

Kumpulin telur
“Sebelum ke rumah Buyut Timah bakar ikan, kita ke kandang ayam dulu ya,” kata Datuk Adil. Datuk ini peternak ayam petelur. Tiap hari bisa terkumpul sekitar 6.000 telur. Hari ini Kaysan ikut bantuin ya…Tuk. Kabupaten Limapuluh Koto ternyata memang penghasil telur terbesar di Sumatra Barat. (Foto 3 & Foto 4)

Mandi di sungai
Setelah makan enak dengan Ikan Nila Bakar yang fresh from the pond, kita main ke sungai di Baruh. Pertama kali nih Kaysan ke sungai. Langsung asyik main sama Bang Fachril dan Gafi. Ayo tebak siapa yang lemparannya paling jauh. (Foto 5 & Foto 6)



Naik-naik ke puncak gunung
Nggak lama main air di sungai, karena ternyata yang lain pada nggak bawa baju ganti. Akhirnya diterusin jalan-jalan ke puncak bukit. Sayang kita lupa apa nama bukitnya. Lihat trio Bolang beraksi! (Foto 7 & Foto 8)

Mancing yuk
Bang Fachril semangat sekali mau ngajarin Kaysan mancing. “Ssstttt Kaysan, kalau mancing nggak boleh ngomong aja, tuh ikan-ikan pada kabur. Yuk kita pindah ke kolam satunya, ikan-ikannya lebih besar!” kata Bang Fachril. Tapi tetap saja akhirnya nggak dapat ikan juga. Kailnya jadi putus, karena ikannya kegedean. (Foto 9)

Yuk makan coklat putih
Gagal mancing ikan, “kita petik buah coklat aja yuk” ajak Bang Fachril. Jangankan Kaysan, ibupun baru tau kalau isi buah coklat ternyata putih seperti sirsak. Rasanya juga mirip sama sirsak, asem-asem manis. Biji dalamnya yang dijemur sampai kering, lalu dijual ke pengumpul untuk dibawa ke pabrik dan diolah jadi coklat. (Foto 10, Foto 11 & Foto 12)

Sekarang ini harga biji coklat kering sekitar Rp. 16.000 per kg. "Sekitar dua tahun sudah berbuah kok dan nggak perlu perawatan khusus," menurut Datuk Adil. Jadi nggak heran pohon coklat kembali jadi primadona di sekitar sini.

Pulang Kampuang

Nyaris sebulan penuh kami habiskan di Sumatera Barat, mulai dari tanggal 3 April s.d. 1 Mei 2007. Thanks to Air Asia yang promo Jakarta-Padang 186 ribu pp per orang. 

Pilihan ke Sumatera Barat bukan tanpa alasan khusus. Sebagai asli keturunan urang awak, masih banyak keluarga besar saya yang tinggal di sana. Berlibur ke kampung halaman sendiri sekaligus silaturahmi setidaknya menghemat biaya akomodasi, karena sanak keluarga pastinya dengan gembira menyambut kami bermalam.

Sekolah Alam Minangkabau
Sekitar dua minggu kami tinggal di Padang, bersama keluarga kembaran alm. ayah saya. Miya, anak beliau satu-satunya sedang merintis Sekolah Alam Minangkabau (SAM) dan sejak di Jakarta, saya sudah mohonkan ijin bagi Kaysan untuk bergabung sebagai murid tamu di sekolah tsb. Gita, anak semata wayang dari Miya dalam waktu singkat menjadi akrab dengan Kaysan.  


Petualangan ala Bolang di Koto Kociak  
Di akhir pekan, 6-8 April 2007, menumpang mobil seorang saudara kami ikut pulang kampung ke Koto Kociak (sekitar 20 km dari Kota Payakumbuh) di Kab. Limapuluh Koto. Di tempat ini alm. ayah saya dilahirkan dan dibesarkan. Di tempat ini pula Kaysan beruntung bisa merasakan langsung kehidupan di desa yang saya tulis sendiri dalam posting Petualangan ala Bolang di Koto Kociak

Minangkabau Highlight
Setelah hampir 10 hari di Sumatera Barat, ada Lanny, Melly, dan juga ayah Adi datang bergabung dari Jakarta. "Mumpung ada yang orang lokal," ujar Lanny yang asli Betawi ketika memutuskan menyusul kami.  Kami berlima mengunjungi Teluk Bungus, Payakumbuh, dan Bukittinggi dengan mobil kijang pinjaman dari seorang etek.  

Tanpa Lanny yang harus kembali ke Jakarta lebih awal, kami melanjutkan perjalanan ke Danau Maninjau. Lalu kembali ke Padang menyusuri pesisir barat, melewati Lubung Basung, Tiku, dan Pariaman. Perjalanan ala paket wisata selama 4 hari (12-15 April 2007) ini saya tulis posting terpisah dalam Minangkabau Highlight.

Di kaki Gunung Merapi
Adi berpisah dengan kami sesampainya di Padang. Sementara Melly yang urang awak tetap tinggal di Sumatera Barat sampai akhir bulan. Kaysan dan saya sempat pula ikut menyusul Melly yang tengah menengok kampungnya di Desa Batu Palano, Sungai Puar, Kab. Agam. 

Berdua dengan Kaysan, kami naik travel Padang-Bukittingi menuju desa ini terletak sekitar 10 km sebelum masuk kota Bukittinggi dari arah Padang via Lembah Anai. Dampak gempa yang baru terjadi sebulan sebelum kedatangan kami (06/03/07), tampak jelas di desa ini.

Kami tinggal selama 3 malam (26-29 April 2007) di desa yang berlokasi di kaki Gunung Merapi dan penghasil sayur-sayuran ini. Di kanan kiri jalan tampak para perempuan sedang mencuci wortel hasil panen. Kaysan sempat ikut membantu panen tomat di salah satu ladang milik saudara Melly. 

Kaysan menemukan sobat baru, Ari namanya. Seorang anak asli Batu Palano yang kurang lebih sebaya dengannya. Rumah Ari pun tak luput dari dampak gempa. Namun keceriaan tak hilang dari raut mukanya. Menarik mengamati dua bocah yang berbeda bahasa, tapi tampak asyik bermain bersama. 

Ternyata bahasa sama sekali tak menjadi kendala bagi anak-anak. Mereka bermain mobil balap di atas gundukan pasir, tepat di depan rumah tempat kami menginap. Dalam waktu singkat Kaysan pun sudah menguasai cara berhitung dalam bahasa minang.

Bukittinggi dan Bonjol
Selama bermalam di Batu Palano, bersama Melly kami sempat mengunjungi Bukittinggi dua kali naik angkot jurusan Koto Baru - Bukittinggi. Pada kunjungan yang pertama kami menelusuri jalan kota hingga sampai di Kebun Binatang. 

Dari Kebun Binatang kami menyeberangi Jembatan Limpapeh dan masuk ke Benteng Fort de Kock. Kami menghabiskan waktu cukup lama di benteng menunggu Kaysan yang asyik bermain dengan meriam yang ada di sana. Setelah puas bermain di benteng, kami bergerak menuju Jam Gadang. 

Sepanjang sore kami hanya duduk di bangku taman dan asyik memperhatikan kesibukan warga kota di Jam Gadang sambil menikmati pisang goreng di alas daun. Sementara Kaysan tampak sibuk dan asyik bermain gelembung sabun. Setelah matahari semakin turun, kami pun segera mencari angkot untuk kembali ke Batu Palano. 

Kami sempat menggunakan Peta Hijau Bukittinggi, sekaligus ingin menjajalnya ketika berjalan. Tapi akhirnya bingung sendiri dengan format peta yang menggunakan foto satelit sebagai peta dasar. Sehingga kembali kami berpegang pada Indonesian Travel Atlas keluaran Periplus.

Kali kedua ke Bukittinggi, tujuan kami mencari gulo-gulo tare, permen khas Bukittinggi, di Pasar Ateh. Permen ini dibuat dari sari tebu yang dimasak hingga jadi karamel. Permen berbentuk segiempat kecil dan berwarna coklat ini dibalut dengan tepung beras sangrai. Rasanya bikin ketagihan.

Setelah berhasil menemukan ibu penjual permen, kami sempat kehabisan ide mau melakukan apalagi untuk menghabiskan sisa hari. Mendadak terbersit ide untuk mengunjungi Bonjol, kota sekitar 60 km utara dari Bukittinggi, yang tepat di garis ekuator. Kisah perjalanan spontan bin nekat ke Bonjol, yang sempet bikin perasaan ketar-ketir ini bisa dibaca di blognya Melly.  

Sungai Bangek dan pelelangan ikan
Kaysan menemukan dua pengalaman tak terlupakan di kota Padang. Pertama adalah kunjungan ke sentra pembenihan dan budidaya ikan air tawar di Sungai Bangek yang letaknya sekitar 15 km dari pusat kota Padang. Kedua adalah pengalaman menyaksikan para nelayan di Pantai Padang kembali dari laut dan melelang hasil tangkapannya.

Jadwal perjalanan
Berikut ringkasan jadwal perjalanan kami selama nyaris sebulan di Sumatera Barat
03 - 06   Padang
06 - 08   Koto Kociak (20 km dari Payakumbuh), Kab. Limapuluh Koto
09 - 11   Padang
12          Padang – Teluk Bungus – Payakumbuh – Koto Kociak
13          Koto Kociak – Payakumbuh – Harau – Bukittinggi
14          Bukittinggi – Maninjau
15          Maninjau – Lubuk Basung – Pariaman – Padang
16 – 25  Padang
22          Sungai Bangek (20 km dari Pusat Kota Padang)
26 – 29  Batu Palano (10 km sebelum Bukittinggi), Kab Agam
28          Bonjol (60 km utara Bukittinggi)
30          Sungai Bangek lagi
1 Mei     Pulang ke Jakarta

ShareThis

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...