Tampilkan postingan dengan label sepeda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sepeda. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Mei 2016

Sesi Evaluasi Homeschooling di BINSER 2016

Diskusi di balik layar
Evaluasi Homeschooling (HS), itu jatah topik presentasi yang saya terima bersama Irma Nugraha dan Mbak Moi Kusman, untuk Acara Bincang Seru Homeschooling 2016 Sabtu (21/5/16) lalu. Total ada 4 sesi presentasi dengan topik menimbang HS, memulai HS, keseharian HS, dan evaluasi HS sebagai penutup.

Kami bertiga memang sama-sama punya anak di atas 12 tahun, bahkan dua anak Mbak Moi sudah lulus kuliah dan bekerja. Tapi ketika harus berbicara tentang evaluasi, kami semua sama-sama meraba-raba. Untuk mengawali persiapan ini, kamipun membuat grup diskusi kecil.

Irma yang 'mengaku' selalu galau memulai diskusi dengan menumpahkan sederet pertanyaan yang dijawab oleh Wiwiet, Mbak Moi, atau cukup sering dijawabnya sendiri :-). Selain itu Irma juga aktif menjelajah mencari teori terkait asesmen. Sementara saya asyik memetakan apa yang Irma curahkan dan jawaban-jawabannya.

Inilah sedikit cerita di balik layar dari lahirnya mindmap evaluasi yang saya tampilkan saat acara Bincang Seru Homeschooling 2016. Sungguh saya merasa bersyukur bisa mendapat kesempatan belajar di belakang layar ini. Sebuah momen refleksi terhadap pilihan kami untuk mendidik anak dengan berbasis keluarga.


Luasnya lingkup evaluasi
Proses curah ide bersama dan mind map yang dihasilkan menyadarkan saya tentang betapa pilihan homeschooling membuka peluang dan memberikan kelenturan (fleksibilitas) dalam melakukan evaluasi. Sehingga jangan sampai lagi-lagi terpaku pada cara evaluasi yang konvensional, seperti rapor atau ijazah.
Mind map evaluasi

Evaluasi setidaknya bisa ditinjau dari aspek 5W 1H atau ADIK SIMBA dalam Bahasa Indonesia, yakni Apa, DImana, Kapan, SIapa, Mengapa, dan BAgaimana. Menurut saya kesadaran betapa luasnya lingkup evaluasi dan orang tualah pemegang kendalinya itu penting untuk menghalau galau.

Selanjutnya orang tua bisa memilih evaluasi seperti apa yang sesuai. Evaluasi dapat dilakukan dalam keseharian dan kehidupan nyata, namun kita perlu sadar supaya momen evaluasi yang berharga tidak terlewat begitu saja. Bagi saya evaluasi anak sekaligus menjadi proses refleksi diri terhadap peran saya dan suami sebagai fasilitator belajar anak dan merencanakan apa yang perlu saya persiapkan untuk langkah berikutnya.
Ada 5 tips terkait Evaluasi Homeschooling yang dirumuskan oleh tim Sesi 4, yaitu:
  1. Percaya anak (trust)
  2. Caranya banyak, ga hanya ala sekolahan
  3. Pilih indikator yang sesuai visi keluarga
  4. Manfaatkan keseharian & kehidupan nyata
  5. Jangan kena jebakan betmen (membandingkan anak dengan anak lain)
Supaya terhindar dari jebakan betmen caranya adalah:
  1. Terinspirasi, jangan terintimidasi
  2. Diet informasi.

Ilustrasi contoh evaluasi
Lewat medium sepeda, benda yang sangat dekat dengan keseharian anak, dapat dilakukan evaluasi yg terintegrasi & berkelanjutan thd aspek pembelajaran, baik sikap, nilai, keterampilan & pengetahuan. Perkembangan anak dipantau dalam jangka panjang, bisa tahunan. Indikator yang digunakan juga berkembang seiring dgn waktu.


Saat balita, kami ajarkan anak naik sepeda dgn tujuan latihan motorik kasar, kordinasi, & keseimbangan, yang menjadi bagian dari milestone tumbuh kembang anak usia 3-6 thn. Ketika semakin besar kami manfaatkan untuk melatih kemandirian dan memberi peluang agar daya jelajah lebih luas.

Kami ajarkan untuk selalu berdoa sebelum berangkat serta menyapa petugas keamanan yang dilewati sepanjang jalan. Selain membiasakan untuk menghargai orang lain, juga membuatnya dikenal, dengan harapan lingkungan sekitar turut menjaganya ketika ia bepergian seorang diri.

Kami juga menanamkan kebiasaan menjaga keamanan diri sendiri & orang lain saat berlalu lintas, seperti memakai helm, jalan di kiri, dan berhenti di persimpangan. Kami tidak tahu seberapa paham ia dengan manfaat pakai helm. Tapi melihatnya tetap dengan helm sekalipun tidak ada satupun temannya yang bersepeda dengan helm membuat kami besar hati. Setidaknya ia berani untuk berbeda & tidak terintimidasi.

Kepercayaan melepaskannya untuk bersepeda sendiri memberinya kesempatan berhadapan dengan tantangan & kesulitan seorang diri. Pernah bannya bocor dan ia harus menuntun sepeda untuk pulang kurang lebih 1,5 km di usia 7 tahun seorang diri. Selain itu juga melepasnya sendiri memberi kesempatan untuk berinisiatif mandiri bersama teman, seperti pernah ia janjian pergi menengok teman yang sakit di usia 8 tahun.

Bersepeda juga membuat anak bahagia dan ketagihan. Kami mulai mencari rute yang lebih panjang, hingga akhirnya ia terbiasa dgn jarak 20 km dan terus meningkat. Sampai akhirnya kami merancang merancang perjalanan bersepeda jarak jauh, Jakarta - Karawang, karena ingin menelusuri Kalimalang.

Perjalanan ini menjadi kesempatan melihat ketahanan mental dan fisik, tanpa merasa dievaluasi. Di samping kami menemui banyak hal baru di sepanjang perjalanan seperti pabrik, pintu air, & kehidupan sepanjang sungai. Sepulang perjalanan, kami ajak untuk coba menulis dan mengirimkan cerita perjalanan tsb ke Rubrik Berani Menjelajah National Geographics Kids. Untuk pertama kalinya tulisannya diterima. Sejak itu ia beberapa kali menulis cerita perjalanannya & dimuat di rubrik yang sama.

Kesenangan bersepeda juga membawanya mencoba triathlon di tahun 2015. Kesempatan untuk mengevaluasi kemampuan renang, sepeda, dan larinya secara terukur akurat. Ia tertarik untuk mencoba lagi di tahun berikutnya dengan target lebih dari yang diperolehnya. Triathlon memang bukan tentang menang kalah terhadap orang lain, tapi kekuatan mengalahkan diri sendiri.

Selain itu ia juga pernah tertarik mencoba balapan sepeda. Ajang yang sangat kompetitif ternyata dan hasilnya jauh di belakang. Tapi ini membuka matanya bahwa di atas langit masih ada langit, dan ternyata untuk bersepeda ada tekniknya. Ia juga pernah mencoba sepeda cross country bersama ayahnya, tapi ternyata ia merasa tidak menikmati. Ketika ia bisa berpendapat tentang apa yang disuka dan mana yang tidak disuka, itu sudah jadi poin penting bagi saya.

Saya juga mulai mengenalkan tentang keberpihakan terhadap pengguna sepeda dan pejalan kaki. Lewat perjalanan bersepeda dengan kenalan baik di Yogya ia bisa merasakan perbedaan mengendarai sepeda di dua kota dan menilai keberpihakan kota terhadap pesepeda. Saya juga mulai mengenalkan tentang emisi yg ditimbulkan dari kendaraan bermotor dan dampaknya terhadap kehidupan, berharap ia bisa mengambil pilihan yang bijaksana kelak ketika dewasa.

Saat ini yang terlihat adalah ketika sebagian besar anak seusianya di komplek tempat tinggal kami mulai naik motor, ia tetap menikmati sepedanya. Ia tahu bahwa motor bukan untuk anak-anak. Perlu usia yang cukup & SIM untuk mengendarainya.
 
Referensi:
(1) Tujuan, fungsi, dan prinsip asesmen
(2) Recordkeeping Oklahoma Homeschool

Selasa, 22 September 2015

Triathlon pertama

Bagaimana rasanya Kay pas lari? Kamu jalan nggak? tanya saya penasaran ke Kaysan usai ia merampungkan triathlon pertamanya minggu lalu (20/9/15). Berlari 2 km setelah berenang 200 m dan bersepeda 4 km tentu bukan hal yang ringan.

"Capek lah Bu...sempet jalan sedikit, tapi habis itu lari terus sampai finish. Soalnya pas baru jalan ada anak yang tiba-tiba tanya, kamu capek ya? Aku juga, tapi jangan jalan, jogging aja yuk," ajak anak yang bertanya ke Kaysan. "Akhirnya kita lari sama-sama, tapi dia makin pelan, jadi Kaysan duluan," tambah Kaysan.

Sesaat saya hilang kata mendengar cerita Kaysan. Sungguh kualitas karakter juara yang dimiliki anak pemilik no BIB 230 tsb dan beruntung Kaysan bertemu di triathlon pertamanya. Pertemuan tsb menggenapi pengalaman triathlon pertama Kaysan yang ternyata tidak hanya menguji ketahanan fisik, tapi juga memperkuat karakter sejak persiapannya.

Swim 200 m, cycle 4 km, run 2 km, and finish strong...
  
Vincentius Bintang Sugandi, pemilik karakter juara

Minggu, 31 Maret 2013

Jakarta - Karawang pp

Tahun 2012 kami tutup dengan wisata murah meriah, yang bikin kami tidur pulas di malam pergantian tahun. Kami menjajal rute Jatinegara Baru (Stasiun Buaran, Jaktim) - Karawang pp, menyusuri jalan di sepanjang tepian Kalimalang. Total jarak yang ditempuh sekitar 54 km sekali jalan. 

Dalam rombongan ada Tia (adik), Wira (suami Tia), Adi (suami), Kaysan (anak), dan saya. Kami berangkat di hari Minggu pagi, 30 Desember 2012. Lalu bermalam di rumah ortu Wira di Karawang. Kemudian kembali di pagi hari berikutnya, 31 Desember 2012.

Ide menyusuri Kalimalang terbersit begitu saja. Setelah beberapa kali kami berlima menikmati asyiknya bersepeda menyusuri tepian Kanal Banjir Timur (Pondok Kopi-Pantai Marunda, sekitar 45 km pp), terpikir untuk bersepeda menyusuri sungai lainnya.  Apalagi menurut info dari ibunda Wira, jalan inspeksi Kalimalang dalam dalam kondisi baik hingga Karawang.

Rencana awalnya Kaysan, anak lelaki kami yang berusia 9 tahun akan dibonceng. Tapi kami justru khawatir ia akan terserang kantuk di jalan bila dibonceng. Akhirnya setelah melihat ketetapan hatinya untuk bersepeda sendiri serta kemampuannya bersepeda jarak jauh di tengah lalu lintas normal, maka dengan Bismillah Adi dan saya memberanikan diri untuk memberi Kaysan kesempatan.

Jumat, 16 November 2012

Keliling Yogya Cara Selow

Menyusuri Yogya di pagi hari @Jl. Mangkubumi
Menjelajah kota adalah salah satu cara berwisata yang saya dan Kaysan gemari. Tidak sekedar mendatangi obyek-obyek wisata, tapi mengalami kota seperti layaknya warga lokal menjalani kesehariannya. 

Dalam sebuah kesempatan berkunjung ke Kota Yogyakarta belum lama  berselang, kami sepakat untuk mencoba berkeliling Yogya dengan naik sepeda. 

Perjalanan sehari penuh kami nikmati dengan santai, tanpa tergesa-gesa, atau woles dalam bahasa walikan yang asal katanya slow, dipandu seorang sahabat yang sedang berupaya mengembalikan budaya bersepeda di Yogyakarta.

Catatan perjalanan bersepeda sejauh 20 km tersebut, lengkap dengan segala detailnya saya tuliskan untuk mengajak Anda ikut menikmati kota dengan cara yang berbeda. Tulisan lengkap bisa dibaca di situs SIWOLES.  

Catatan: 
Biaya sewa
a. Biaya sewa tiap sepeda: Rp 25.000/24 jam (belum termasuk biaya antar jemput sepeda, Rp 10.000/ sepeda)
b. Biaya sewa boncengan balita: Rp 10.000/24 jam
c. Biaya sewa sepeda per minggu atau per bulan, sila kontak pengelola
d. Kami juga menyediakan pemandu wisata. Biaya bisa dinegosiasikan.

Fasilitas termasuk
- Helm sepeda
- Rantai kunci sepeda
- Lampu

Info lebih lengkap kontak SIWOLES.

Selasa, 23 Agustus 2011

Catatan dari pelatihan bersepeda anak SD

"Pelan-pelan, lihat ke belakang, kasih tanda!" Tak bosan-bosannya para kakak fasilitator mengulang seruan tsb kepada anak-anak SD yang sedang mengikuti pelatihan bersepeda yang aman.

Pelatihan bersepeda
Pelatihan bersepeda tsb berlangsung di masa libur naik kelas yang baru saja berlalu. Tujuannya sederhana, yakni meningkatkan keterampilan dasar bersepeda para peserta agar lebih aman dalam berkendara lewat 2 x pertemuan (2 & 9 Juli 2011). Harus diakui tantangan bagi siswa-siswi sekarang untuk bersepeda ke sekolah jauh lebih besar dari yang generasi sebelumnya hadapi, setidaknya satu dekade yang lalu.

Niatan mengadakan pelatihan sebenarnya sudah cukup lama terbersit. Sebuah catatan pernah dibuat di sini . Tapi titik cerah baru tampak setelah tak sengaja membaca notes Lieke Soe   di bulan Mei 2011 ttg Program Kids on Bikes di Jogja. Akhirnya info lebih lengkap diperoleh dari Thomas Widiyanto, salah seorang pegiat Kids on Bikes, yang begitu murah hati berbagi pengalaman.

Berangkat dari info tsb, akhirnya saya coba kontak Goro, seorang pesepeda & urbanist yang tak sengaja saya kenal pada salah satu pertemuan #savejkt beberapa bulan sebelumnya. Apalagi kalau bukan untuk meminangnya menjadi fasilitator. Lewat kicauan Goro, akhirnya terkumpul tim fasilitator. Ada Randi, Rahne, Imam, Seno, Rangga, dan Lia.

Luar biasa salut dengan semangat untuk berbagi dan berbuat dari teman-teman yang baru saya kenal ini. Tak kurang dari 40 km pp harus digenjot dari kawasan SCBD ke tempat pelatihan di SDN Penggilingan 05 & 07 Pagi yang terletak di ujung timur Jakarta. Di luar dugaan teman-teman juga sampai siap dengan "hadiah-hadiah” penyemangat untuk peserta.
"Minggu depan ada lagi kan kak", tanya beberapa anak dengan antusias sebelum pelatihan usai.


Rasanya pertanyaan tsb cukup menunjukkan betapa anak-anak menikmati kegiatan ini. Simak juga rekaman anak-anak saat mengikuti pelatihan di sini. Pastinya ada pengetahuan baru yang diperoleh dari 2x pertemuan tsb. Walaupun untuk mencapai tahap perubahan perilaku berkendara, anak-anak masih perlu banyak berlatih ;-)


Interaksi nyata antar warga kota
Terlepas dari materi pelatihannya sendiri, menarik memperhatikan interaksi yang terjadi antara kakak-kakak fasilitator & adik-adik peserta. Terutama karena terjadi di tengah kehidupan kota yang serba cepat, serba digital, & serba seragam (homogen). Praktis saat ini kian langka menemukan interaksi antar warga dalam dunia nyata apalagi lintas kelompok (baca: sosial, umur, pendidikan, agama, dsj).

"Perumahan terbagi menjadi perumahan mewah, biasa, & sederhana. Begitu juga sekolah, internasional, nasional, & reguler," lontar seorang teman di milis mengungkapkan kekhawatirannya terhadap eklusi sosial yang berkembang di kota besar.

Miris memang melihat interaksi antar warga semakin terkotak-kotak dalam sekat-sekat sosial yang homogen. Interaksi lintas kelas sosial barangkali lebih banyak terjadi dalam konteks menyantuni dan disantuni. Bentuk yang alih-alih menimbulkan kemandirian, justru lebih sering menimbulkan ketergantungan baru.

Tapi dalam pelatihan bersepeda ini saya menyaksikan hal yang berbeda, warga bertaut karena niat baik untuk saling berbagi. Para kakak fasilitator & adik peserta tidak hanya beda usia, tapi juga bisa jadi beda tingkat sosial. Kakak-kakak, yang notabene kelompok pekerja profesional/kreatif, yg semuanya mengecap pendidikan tinggi, berinteraksi dengan adik-adik peserta dari SD negeri, reguler pula. Pekerjaan orangtuanya antara lain buruh pabrik, pedagang kecil, waitress, & pekarya.
 
Barangkali sepintas terlihat lebih banyak berbagi satu arah, kakak-kakak berbagi keahlian & coklat hadiah ke adik2 :-). Tapi tampaknya tidak sepenuhnya demikian, bila menyimak ungkapan kakak-kakak fasilitator yang antara lain:
"Saya belajar banyak dari kegiatan tadi dan terima kasih untuk kesempatannya", ungkap salah seorang kakak ketika kami ngobrol-ngobrol santai setelah pertemuan ke-1 usai.
"Ya ampun...adik-adik itu seneng banget ya, padahal cuma dikasih coklat aja", ujar seorang kakak melihat antusiasme adik-adik mendapat pembagian coklat.
"Lagi terharu nih salah seorang adik datang ke saya dan minta salim", lapor seorang kakak lain lewat livetwitnya saat awal pertemuan ke-2.
Ada pertukaran nilai dan keahlian dalam interaksi lintas kelompok tsb. Perasaan berguna dan kepuasan belum tentu bisa dibeli di mall paling lengkap sekalipun. Keeratan sosial pun terbangun. Jauh-jauh ke ujung timur Jakarta juga membawa kakak-kakak lebih mengenal Jakarta di luar SCBD. Termasuk pengalaman baru bawa sepeda naik KRL ;-)

Sebuah harapan
Setiap kali melihat kolaborasi karena niat baik (baca: modal sosial), saya seolah mendapat energi positif yang meyakinkan bahwa perubahan ke arah yang lebih baik bisa dicapai dengan modal sosial. Ketika keberagaman dimanfaatkan untuk saling menguatkan, bukan malah jadi diseragamkan.

Di penghujung bulan penuh berkah, ketika banyak doa di ijabah, teriring doa...semoga semakin banyak niat baik yang saling bertaut untuk kebaikan bersama.

22 Ramadhan 1432 H



Senin, 01 Agustus 2011

Senin, 01 Desember 2008

Solo, oasis bagi pengendara sepeda

Hari ini di milis Greenmap Jakarta lagi ramai tentang rencana jalur sepeda Blok M-Monas, yang katanya akan beroperasi akhir Desember 2008. Jadi ingat untuk merampungkan tulisan perjalanan Kaysan dan saya ke Solo minggu yang lalu. Perjalanan yang menyisakan secercah harapan akan sistem transportasi yang lebih baik di negeri ini. Ini tulisan kedua dan terakhir.



Sambutan hangat hotel bintang 4
Sekitar pukul 09:30 kami sampai di Stasiun Purwosari Solo, yang berlokasi di ujung Jl. Slamet Riyadi (jalan protokol seperti Jl. Sudirman di Jakarta). Begitu turun kereta api, kami langsung disambut para tukang becak yang pantang menyerah menawarkan jasanya.

Walaupun awalnya kami berniat naik taksi, tapi pikir-pikir apa salahnya coba naik becak. Toh dari hasil browsing saya sudah tahu hotel bintang 4 tujuan kami masih di Jl. Slamet Riyadi ini juga. Tanpa tawar-menawar saya setuju saja dengan tarif Rp. 10.000,-. Becak pun melaju di jalur lambat khusus sepeda sepanjang Jl. Slamet Riyadi dan Kaysan senang tak kepalang.

Bukan sok jumawa kalau saya sebut-sebut bintangnya si hotel. Soalnya saya sempat dag...dig...dug ...waktu semakin dekat ke tujuan. Mungkin karena mental minder makhluk ibukota, yang seumur hidup nggak pernah terbayang bakal masuk lobby hotel berbintang pakai becak. Kayaknya si abang merasakan kekhawatiran saya, makanya dia sampai bilang: "biasa kok mbak sampai dalam."

Terbukti memang kekhawatiran saya sama sekali nggak beralasan. Untuk pertama kalinya, saya naik becak sampai masuk lobby hotel bintang 4 dan dapat sambutan hangat pula. Hmm...jadi siapa bilang kendaraan tak bermotor kalah gengsi dengan mobil atau motor? Rupanya hal ini tak berlaku di Solo. Luar biasa.....

2,5 m untuk jalur sepeda Kalo kota lain masih pro dan kontra dengan jalur sepeda, tidak demikian dengan Solo. Ternyata jalur lambat khusus sepeda bukan hanya di sisi kiri Jl. Slamet Riyadi, yang saya lalui naik becak saat menuju hotel. Di sisi sebelah kanan Jl. Slamet Riyadi yang satu arah dan panjangnya 3,5 km ini, ada juga jalur khusus sepeda sekaligus pejalan kaki yang tampaknya baru diperbaiki dengan corn block. Lebar jalur khusus ini tak kurang dari 2,5 m (pokoknya lebih dari 8 langkah saya).

Ternyata nggak perlu tuh jauh-jauh ke Eropa untuk liat surganya pejalan kaki dan sepeda. Jelas-jelas Solo nggak beda jauh suhunya sama Jakarta, tapi tetep banyak tuh yang naik sepeda. Jalur khusus sepeda ini memang benar-benar memberi rasa aman. Soalnya kalau di Jakarta, saya tuh lebih ngeri kesenggol sama mobil dan motor yang seliweran dibanding sama panasnya.

Di jalur khusus sepeda dan pejalan kaki ini, mobil atau motor dilarang parkir. Parkir justru mengambil badan jalan jalur cepat. PEMKOT Solo pantas diacungi dua jempol nih. Pada hari sebelumnya dalam suatu forum diskusi, Ketua Bappeda Kota Solo mengungkapkan bahwa "Gambaran Solo ke depan adalah Solo masa lalu".

Dalam benerrrr, terbuktikan tidak semua kota mengartikan modernisasi = bangun jalan dan punya mobil atau motor. Di kesempatan itu pula seorang wakil dari Dinas PU mengungkapkan kalau mereka sudah mengusulkan untuk perbaikan jalur lambat di jalan lainnya melalui DAK. Namun ditolak oleh Pemerintah Pusat. Oohhhhh :-(

Kereta api yang menyatu dengan lalu lintas
Masih ada satu lagi keunikan transportasi di Kota Solo. Di sisi kanan jalur cepat Jl. Slamet Riyadi, kita bisa lihat jalur KA. Di jalur ini setiap pagi dan sore hari melintas KA Feeder Solo-Wonogiri. Di sore terakhir kami di Solo, Kaysan dan saya menunggu KA ini lewat sambil "piknik" di jalur hijau Jl. Slamet Riyadi untuk mengabadikannya.

Tapi setelah ditunggu hampir 1,5 jam (sampai pukul 5 sore), kok KA-nya nggak kunjung lewat. Usut punya usut, ternyata menurut satpam hotel KA sudah melintas beberapa saat sebelum kami sampai. Padahal sebelumnya kami tanya satpam lain, katanya belum lewat :-(

Di hari sebelumnya kami sudah melihat KA ini melintas, beriringan dengan mobil atau motor yang lalu lalang di Jl. Slamet Riyadi tanpa pembatas. Di Indonesia, pemandangan unik ini mungkin hanya tertinggal di Solo. Semoga dapat bertahan!

Minggu, 21 September 2008

Rute sepeda asyik untuk anak

Beberapa tahun belakangan ini banyak pekerja yang tergila-gila bersepeda. Weekend pun dimanfaatkan untuk menjajal rute-rute off-road baru yang menantang. Hobi sehat ini sempat merasuk juga ke ayahnya Kaysan waktu kami masih tinggal di Bandung hingga pertengahan tahun 2006. Keluhan saya cuma satu, waktu untuk main dengan anak di weekend jadi hilang.

Mulai dari boncengan
Jalan tengahnya, kami membeli kursi sepeda untuk Kaysan di saat sepertinya dia sudah bisa duduk dengan relatif tenang. Jadi sesekali waktu Kaysan bisa ikut digonceng di jalur-jalur yang relatif aman. Beberapa yang kami masih ingat, Kaysan pernah digonceng ayah dari Istana Bunga ke Little Farmer, dari Sangkuriang Dago ke Taman Hutan Raya Juanda, puter-puter Kebun Raya Cibodas, segala pelosok Kota Baru Parahyangan dan nyusurin Danau UI. Ternyata Kaysan favorit sekali tamasya naik sepeda begini.

Sementara, kalau sama ibu paling digonceng di jalur-jalur pendek seputaran Kota Baru Parahyangan (waktu kami sempat menikmati tinggal sebentar di situ). Atau di antar-jemput ke mesjid dan rumah teman di perumahan yang sekarang kami tinggali di Jakarta. Ibu suka ngeri sih, kalau digonceng kelamaan, Kaysan suka jadi ngantuk, trus oleng kiri kanan.



Hingga gowes sendiri
Setelah hampir 3 tahun bertugas, kursi sepeda Kaysan pun resmi pensiun semenjak Kaysan lancar bersepeda roda dua. Alhasil, kami pun jadi cari ide rute aman dan asyik untuk variasi, yang Kaysan bisa jajal dengan naik sepedanya sendiri. Tentunya rute yang sesuai untuk kekuatan kayuhan kaki anak yang belum genap 5 tahun ini.

Berhubung rute di komplek udah jadi makanan sehari-hari, abis sehari bisa tiga kali waktu dia keliling. Udah kayak makan aja ya, padahal makan aja dia nggak segitu amat semangatnya. Hi3...malah udah punya gank sepeda pula. Jadi anggota termuda dari DARK IN , yang berasal dari inisial nama-nama anggotanya.

Nah ini ringkasan beberapa rute sepeda asyik luar komplek yang sudah pernah dicoba Kaysan dengan sepedanya sendiri.

Kebun Binatang Ragunan, Jakarta
Di suatu hari sabtu sambil nunggu ibu yang mesti rapat Peta Hijau di deket Ragunan, Kaysan sama Ayah keliling naik sepeda di Kebun Binatang (KB) Ragunan. Untuk masuk ke KB Ragunan, sepeda dikenakan karcis masuk Rp. 1.000,-, di luar tiket masuk orang. O...iya, jangan khawatir kalau nggak bawa sepeda sendiri. Ada tempat penyewaan sepeda di dalam KB Ragunan. Tapi maaf nih, saya juga kurang tahu harga sewanya.

Menurut Kaysan: "asyik banget naik sepeda di KB Ragunan, soalnya nggak cape keliling". Memang KB Ragunan ini terlalu besar untuk ditempuh seluruhnya dengan jalan kaki oleh anak-anak. Dengan sepeda Kaysan jadi bisa mampir hampir ke semua kandang binatang di KB Ragunan, tanpa kecape'an. Trus dengan bersemangan Kaysan menambahkan: "jalannya seru loh bu, naik-turun!".

Alhasil minggu depannya pas ibu punya jadwal rapat Peta Hijau lagi di deket Ragunan, Kaysan udah merengek-rengek pengen naik sepeda lagi. Cuma sayang kali ini ayah mesti lembur, jadi nggak ada yang bisa nemenin.

Taman Monas, Jakarta
Satu lagi yang pernah Kaysan coba bersepeda adalah Taman Monas. Tempat ini juga asyik, ada beberapa ramp yang dijadiin tempat main naik turun oleh Kaysan. Tapi menurut Kaysan lebih seru KB Ragunan. Mungkin karena di KB Ragunan bisa diseling liat binatang ya.

Taman Lalu Lintas, Bandung
Kelebihan taman ini adalah bisa naik sepeda sambil belajar aturan lalu lintas. Di luar karcis masuk Taman Lalu Lintas, pengunjung harus bayar Rp. 3.000/setengah jam untuk sewa sepeda di arena bersepeda.

Lucu juga liat Kaysan berusaha koordinasi antara merhatiin lampu lalu lintas dan menjaga keseimbangan. Rutenya juga cukup menantang ada naik-turun dan aneka belokan. Hanya sayangnya sepeda sewaannya kurang terawat. Banyak yang remnya nggak ada atau keras. Ortu yang lagi nunggu jadi deg-degan juga, apalagi pas bagian turunan dan naik sepeda roda dua juga baru bisa 1 minggu. Sayang kami nggak tanya apa boleh bawa sepeda sendiri ke dalam arena bersepeda ini.

Kalau punya info rute lain yang asyik untuk anak, please share!

Ancol sepertinya menarik, apalagi katanya bulan Mei 2008 lalu diresmikan jalur sepeda sepanjang 15 km. Begitu pula Kebun Raya Bogor. Tapi kami belum pernah coba. Ada yang sudah pernah?

Kalau Kebun Raya Cibodas, tanjakan dan turunannya terlalu curam untuk anak-anak. Terakhir ke sana Kaysan bawa sepeda sendiri, tapi cuma bisa main di sekitar wisma saja.

O...iya, supaya aman bersepeda, Kaysan selalu pakai HELM dan diusahakan pake CELANA PANJANG.

Catatan:
Di inbox saya hari ini ada ucapan selamat ber-CAR FREE DAY (CFD) dari seorang teman. Karena hari ini, 22 September, 8 tahun yang lalu World Car Free Network merayakan hari bebas kendaraan bermotor untuk pertama kalinya. Jakarta pun mengadakan CFD pada 22 September 2002 untuk pertama kalinya. Thanks for reminding Wang!

Jadi posting ini saya dedikasikan untuk semua individu yang sudah berusaha keras mengurangi penggunaan kendaraan bermotor.

Info harga (tahun 2005):
Helm United Rp. 125.000,-
Harga boncengan sepeda Rp. 135.000,-

Senin, 18 Agustus 2008

Keliling dunia naik "sepeda balon udara"

Perayaan 17 Agustus kali ini menandai tahun ketiga kami tinggal di perumahan yang sekarang, dan tahun ketiga juga Kaysan ikut pawai sepeda hias. Tahun ini sepeda Kaysan disulap jadi balon udara...

Modalny
a cukup dari bongkar-bongkar rumah, antara lain hula hoop tante Yani, payung lebar nenek, kain warna warni bekas banner tante Tia, botol nu tea bekas, wadah activia bekas, kantong net bekas bawang dan kertas shredder. Dari tahun ke tahun kami memang berniat untuk sedikit mungkin pakai material baru, yang dibeli khusus untuk hias sepeda, habis itu dibuang. Supaya nggak nambah-nambahin sampah.


Kalo kilas balik, lucu juga liat hiasan sepeda Kaysan dari tahun ke tahun. Tahun 2006, yang pertama, Kaysan keukeuh surekeh mo jadi Franklin. Terpaksa lah kami putar otak. Akhirnya tutup keranjang baju kotor disulap jadi tempurungnya. Lalu dibungkus dengan koran bekas yang di cat. Ternyata cat mengecat itu super ribet bin repot. Berhubung kami baru kerja last minute, yang ada cat masih rada basah pas acara udah mo mulai. Ibu dan ayah udah angkat tangan, akhirnya tante Tia yang ngelarin ngecatnya.


Kapok dengan urusan cat mengecat di tahun sebelumnya, di tahun 2007 hampir saja Kaysan urung ikutan pawai sepeda hias. Tapi ibu nggak tega, trus pas lewat rumah tetangga yang lagi hias sepeda dapat inspirasi cara buat konstruksi rangka pake bambu. Jadi pengen nyobain, ya udah deh, akhirnya tahun 2007 itu ibu jadi tim kreatif satu-satunya. Ayah dan tante Tia udah nggak tertarik ikutan. Alhamdulillah pas aja di samping rumah tergeletak bambu-bambu usang. Lagi-lagi berhubung kerjanya last minute, di rumah nggak ada bahan hiasannya, satu-satunya cuma ada pohon jambu yang butuh trimming. Akhirnya bermodal daun jambu, 15 menit menjelang pawai jadilah si "tikus hijau". Ternyata diluar dugaan, Kaysan dapat penghargaan kedua karena dinilai paling orisinal dan kreatif.

Nah, berhubung semangat dapat penghargaan, langsung mikir-mikir deh tahun depannya mau buat apa. Kepikir untuk manfaatin barang bekas, terinspirasi iklan pesawat terbang botol
aqua. Alhasil kami pun mulai ngumpulin botol PET Nu Tea sisa tante-tante yang terobsesi dapat 100 juta undiannya. Trus Kaysan juga sempat tergila-gila activia, wadahnyapun kami kumpulkan. Memang sih di rumah kami pemulung segala wadah, kotak dll, bukan untuk sepeda hias sih sebenarnya, tapi karena kami punya kegiatan Klab Main.

Untuk tahun 2008 ini diputuskan menghias sepeda gilirannya si Ayah. Berhubung 17 Agustus jatuh di hari minggu, menghias sepeda pun di mulai dari sabtunya. Cari sana-sini di rumah nggak nemu bambu. Minta ke tetangga bambu bekas stegger bangunan, eh susah pula di buat bilah-bilah. Jadilah bongkar-bongkar, diputuskan pakai hula hoop tante yani dan payung besar nenek untuk konstruksinya.



Awalnya Ayah menghias di rumah, sementara Kaysan ikutan lomba-lomba di lapangan ditemenin ibu. Eh tapi pas siang pulang ke rumah, progress Ayah baru sampai masang hula hoop dan payung, sambil bingung mo dijadiin apa. Trus lebih bingung lagi barang-barang bekas hasil ngumpulin setahun mau dipake jadi apa. Semua pun puter otak, kepikir bisa jadi mulai dari ikan buntal, UFO sampai bolu kukus.
Jreng...jreng...Ibu keinget si Tante Tia punya kain warna-warni bekas properti acara reuni Open Door. Wah kayaknya balon udara cocok nih. Langsung deh ide-ide segar lain mengalir, keranjangnya dibuat dari botol Nu Tea yang dironce aja kata tante Tia. Jadilah Ayah (konstruktor), ibu ("penjahit" kain jadi "balon") dan tante Tia (pembuat keranjang) sebagai tim kreatif resmi menghias sepeda Kaysan tahun 2008 ini. Ini nih Tim Kreatif berpose dulu sebelum pawai di mulai hi3...




Final touchnya makin lengkap dengan kantong pasir dari net bekas bawang yang diisi kertas shredder. Trus di balon biar kain nggak terbang dipasang pin WWF yang dulu banget dikasih tante Verena dan dapat dari CIFOR pas acara GreenFest 2008. Kaysan sendiri pake kaos hijau gambar sepeda dan topi yang ada pin selamatkan lahan basah Jakarta dari Jakarta Green Monster (JGM).

Komentar penonton pas pawai hampir sama: "wah nggak pernah kepikir pake barang-barang bekas bisa jadi begini". Trus ada juga yang baca pin-pin yang ditempel. Semoga aja pesan lingkungannya nyampe ya...
Alhamdulillah nih, Kaysan terpilih jadi peserta terunik. Naik panggung deh dia pas malam ramah-tamah.

Dari pengalaman ini berasa deh bahwa terlibat di proses kreatif itu asyik. Buktinya Ayah aja yang awalnya nggak terlalu antusias, belakangan malah jadi mikir...hmmm, tahun depan buat apa ya? Kalau refleksi pakai ilmu baru dari trainingnya dari CREDO, bener deh dalam proses kreatif ini kami ngelewatin tahap observasi, eksplorasi, cari ide, ambil keputusan dan kreasi.

Foto-foto pawai sepeda hias 2008 ada di blog tante Tia.

Senin, 21 Juli 2008

Narasumber cilik Obrolan Greenlifestyle di Green Radio (89,2 FM)

Hari minggu kemarin (20/07/08), Kaysan ikutan jadi narasumber cilik untuk acara obrolan Greenlifestyle di Green Radio 89,2 FM. Temanya tentang polusi udara di Jakarta.

Di acara ngobrol-ngobrol rutin dua mingguan pada hari minggu pukul 15-16 WIB ini, komunitas Greenlifestyle mengusung aneka tips untuk menjalankan
gaya hidup lebih ramah lingkungan.

Pertanyaan pertama sukses dijawab Kaysan -- "Polusi udara itu apa sih Kaysan?" tanya Nona Mala, penyiar Green Radio. Setelah mikir sebentar, Kaysan dengan yakin jawab: "asap". Lalu kali ini ditanya: "kalo ada asap nggak enak ya Kaysan?". Nah kali ini dijawab Kaysan dengan manggut-manggut. Hi3, nggak keliatan dong nak di radio!

Tema acara Obrolan GL biasanya diumumkan lewat milis Greenlifestyle. Untuk menjadi  anggota dan berbagi tips gaya hidup ramah lingkungan dapat gabung dengan mengirim em
ail kosong ke greenlifestyle-subscribe[at]googlegroups.com

Siapa yang berminat untuk sharing pengalamannnya menjalankan gaya hidup ramah lingkungan, dapat mengajukan diri jadi narasumber acara Obrolan GL di Green Radio ini. Narasumber sengaja dipilih dari segenap kalangan, supaya menjadi inspirasi kalau
gaya hidup ramah lingkungan bisa dijalankan oleh semua orang, asalkan peduli.

Kembali ke Kaysan, di segmen kedua dia dapat beberapa pertanyaan:
Nona (GR): "Kaysan
kan belum sekolah, tapi biasa ngaji ke mesjid, nah kalo pergi ngaji naik apa?"
Kaysan: "N
aik sepeda" 
(Ha3...jawabnya semangat sekali , karena memang baru sebulan ini dia bisa naik sepeda roda 2, ha3...)
 
Nona (GR): "Kok nggak minta dianter ibu naik motor?"
Kaysan: "Abis deket"
(Ha3...padahal emang ibunya nggak punya motor. Nggak kok, sebelum ini Kaysan biasanya dibonceng ibu n
aik sepeda ke mesjid yang jaraknya sekitar 750 m  dari rumah)

Nona (GR): "Kaysan juga suka ajak temen2 naik sepeda?"
Kaysan: "Nggak, abis udah pada naik sepeda juga"
(Ha3...dasar anak-anak...polos banget jawabannya...)

Terakhir menjelang acara Obrolan GL selesai, Kaysan ditanya sama Nona Mala, penyiar Green Radio, apa pesannya untuk anak-anak lain. Wuih, si ibu sempet khawatir juga, ngerti nggak nih anak sama pertanyaan ini. Ternyata dengan lantang Kaysan berpesan: "naik sepeda!"

Wah hebat kamu Nak!

Jumat, 21 September 2007

Si "Tikus Hijau"

17 Agustus 2007 kemarin Kaysan ikutan pawai sepeda hias di komplek naik si "Tikus Hijau". Hasil dari botakin pohon jambu yang emang udah butuh trimming.

Waktu rangka bambu udah jadi, benernya sempat bingung apakah mau finishing jadi topi tentara, kura-kura, landak ato tikus. "Ya udah deh....jadi tikus aja bu", kata Kaysan.



Alhamdulillah si “Tikus Hijau” jadi juara 2. Wuih langsung seneng nggak kepalang. Liat aja nih senyum manisnya pas diumumin sebagai pemenang.

Biarpun sederhana, si “Tikus Hijau” dinilai paling orisinal dan kreatif. Abis nggak pernah-pernah ada yang hias sepeda pakai daun. Ramah lingkungan pula :-)



Besok malamnya, Kaysan naik sendiri ke panggung pas pembagian hadiah. Bela-belain dia bertahan bangun sampai jam 21:30 WIB, padahal udah ngantuk berat karena siangnya nggak tidur.




ShareThis

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...